Jumat, 25 Januari 2013

Jangan lari, pelarianmu ada disini


Teruntuk seseorang yang selalu menjadikanku sebagai pelarian.
Hai, aku pikir kehilangan kamu adalah hal paling menyiksa, tapi ternyata menunggumu kembali itu lebih melukai.
Aku sadar diri dan cukup tahu diri untuk nggak berharap lebih, tapi kenapa mengingatmu selalu menyisakan perih?
Rasa sakitnya mungkin masih terasa, tapi itu semua langsung jadi sirna saat aku tahu kamu udah bahagia, walau sama dia.
Buat aku, kebahagiaan yang dulu pernah kita bangun sama-sama udah nggak akan pernah sama sekalipun kita ditakdirin untuk berusaha saling bahagia berdua.
Semuanya udah beda, sekalipun rasa sayang aku ke kamu dari dulu sampai sekarang tetap sama.
Kamu tahu? Satu kata yang mendeskripsikan segala rasa rindu yang tak pernah bertemu.
Aku egois, yang aku tahu bahagia ku Cuma karena kamu juga bahagia.
Aku ini orangnya pelit, makanya aku nggak rela kalau kamu di bagi-bagi sama orang lain, aku mau kamu Cuma buat aku aja.
Salah?

Selasa, 22 Januari 2013

Ibu Suri

Teruntuk Ibu Suri, @deelestari
Selamat hari selasa, Ibu suri.

Khawatir jika aku mengucapkan selamat pagi, tapi kamu membacanya saat siang, jika aku mengucapkan selamat siang, tapi kamu membacanya saat malam dan begitulah seterusnya. Aku pun khawatir jika surat yang begitu sederhana ini tidak sempat kamu baca. Tapi, tenang. Aku menulis surat ini bukan hanya untuk kau baca ibu suri. Aku hanyalah salah seorang dari ribuan bahkan jutaan pengagum semua tulisanmu, aku hanyalah seorang remaja yang sedang tergila-gila dengan dunia tulis menulis di era nya.

Ibu suri, surat ini pasti akan berlabuh di tab mentionmu, tapi aku tidak dapat memastikan apakah kau akan berniat membuka lalu membacanya sampai kalimat terakhir. Jika boleh berbicara jujur, aku ingin sekali bertemu langsung denganmu ibu suri. Aku akan bercerita sedikit banyak tentang kegilaanku pada semua tulisanmu, tentu saja jika kau berkenan.

Pertama kali aku membaca sebuah karyamu, melalui buku pinjaman dari seseorang. Tanpa perlu berlama-lama aku langsung jatuh hati pada ceritamu, gaya bahasamu, dan bagaimana kamu mendeskripsikan sebuah karakter. Aku membaca habis hingga halaman terakhir, bahkan berulang kali aku membacanya. Lalu, karena saat itu aku masih sekolah, aku mengumpulkan uang jajanku untuk membeli sebuah novel yang kau tulis. Saat itu aku membeli novel perahu kertas, dan aku menemukan sosok yang sama persis dengan diriku. Melihat sosok Kugy aku seperti sedang bercermin. Kemudian, sejak saat itu aku menggolongkan diriku menjadi aDEEction. Mungkin kau tahu persis, berapa harga novel-novelmu yang tebal itu. Bukan harga yang murah bagi para pelajar dengan uang saku yang seadanya. Aku menyisihkannya sedikit demi sedikit hanya untuk membeli satu paket buku novel seri supernova (KPBJ, Akar, Petir dan Partikel) aku membacanya sampai halaman terakhir, dan aku menunggu novel lanjutan dari Partikel ya ibu Suri.

Senin, 21 Januari 2013

Pemberi Harapan Palsu

Hai, apa kabar? Udah tiga hari nih nggak berkomunikasi sama aku. Nggak kangen?
Kamu cuma kasih kabar seperlunya aja, ngabarin kalau Blackberry kamu ketinggalan di jok mobil teman kamu.
Kamu ngabarinnya juga pakai Hp Android kamu, ya walaupun agak sedikit nggak masuk akal sih, Bb kamu ketinggalan dan nggak langsung kamu ambil. Dari hari jumat ngehubungin kamu susah banget, sekalinya ngasih kabar kamu bilang “Aku baru bangun nih, maaf ya” dan beberapa jam kemudian kamu ngasih kabar “Yah, aku ketiduran” dalam sehari, kamu cuma tidur terus seharian, giliran kamu ngechat di line udah hampir jam satu pagi dan pastinya aku udah tidur. Begitupun dengan keesokan harinya. Tiga hari dengan komunikasi yang gitu-gitu aja dan sebaiknya nggak usah ada bikin aku berpikir, kalau tanpa kehadiran kamu pun hidup aku biasa aja, tanpa merasa ada yang hilang sedikitpun saat nggak ada kamu. Udah hampir satu bulan kita dekat kayak gini, bahkan sering kamu datang kerumah dan kita berdua saling menahan ngantuk saat telponan sampai dini hari. Nggak jarang kamu pun manggil aku dengan sebutan “sayang” dan bilang “Aku sayang kamu” aku pun begitu. Tapi, aku ngerasa nggak butuh semua itu tanpa adanya status kejelasan dari kamu. Nggak Cuma sekali aku nanya dan minta kepastian tentang kelanjutan hubungan ini, dan kamu terlalu menyepelekannya dengan bilang “Aku lebih nyaman kita kayak gini. Daripada nanti pacaran terus putus dan jadi marahan” Ah kamu PHP banget sih! Iya, aku kesel. Tau kan kalau aku kesel? Kamu pasti tau, tapi sering pura-pura nggak tau. Aku capek, harus selalu nunggu, dan aku yakin menurut semua orang menunggu itu bukan hal yang menyenangkan, terlebih soal perasaan.

Minggu, 20 Januari 2013

Dua Tahun Sudah

Mengenang tepat dua tahun meninggalnya Alm. Mama ( 20 Januari 2011 - 20 Januari 2013 )
Ma, Dua tahun sudah kedua tangan ini tidak memelukmu.
Dua tahun sudah, kedua bibir ini tidak mencium telapak tangan, kening serta kedua pipimu.
Dua tahun sudah, kedua mata ini tidak melihat paras dan sosokmu
Dua tahun sudah, segalanya hilang dan menjadi kenangan.
Waktu yang belum cukup lama, namun begitu terasa.
Dua tahun setelah kepergianmu, tak hanya sedikit perubahan yang terjadi didalam diriku. Namun, begitu membukit ma.
Lihat, sekarang aku seperti seorang wanita dewasa yang harus bekerja demi mendapat gelar sarjana dan membuat mama papa bangga.
Aku bekerja senin-jumat, terkadang hari sabtu diwajibkan masuk kantor dan terkadang pula harus pulang larut malam.
Sekiranya aku pernah merasa lelah. Namun, itu tidak mampu membuatku menyerah.
Sekiranya beberapa hal membuat mentalku terguncang. Namun, itu takkan membuat semangatku tumbang.
Ma, satu yang harus kau ketahui.
Betapa inginnya aku membelikan sesuatu untukmu saat aku menerima gaji pertamaku. Hasil keringat jerih payahku bekerja selama tiga puluh hari.
Tetapi, yang ada aku hanya menangis sendiri.
Betapa tak bergunanya aku sebagai anak ma, yang selama enam belas tahun tidak sanggup memberikan sedikitpun sesuatu berharga untukmu.
Kini aku hanya bisa mengirimkan doa dan menyelipkan nama mama dan papa disebuah kalimat sebelum aku menjawabnya dengan “Amin” disetiap doa yang ku panjatkan.
Ma, aku yakin kau dapat mendengar segala jerit dalam diamku, jerit dalam segala rindu, jerit dalam tangis sedu dan jerit dalam setiap doaku yang selalu menyebutkan namamu.
Betapa ingin, aku pergi sejenak untuk bertemu dan memelukmu.
Atau bahkan pergi selamanya, untuk bisa tinggal bersamamu di atas surga sana.


Dari anak perempuanmu yang selalu merindukanmu,
Talitha Brantya



#30HariMenulisSuratCinta

#7

Jumat, 18 Januari 2013

Gitar Kayu di Sudut Kamar




Maaf ya, aku membiarkan kamu diselimuti debu yang tebal.
Aku terus menggantungmu disudut kamar, sedangkan aku tahu digantung terlalu lama pasti menyakitkan.
Aku jarang memelukmu lagi, bukan karena aku bosan. Hanya saja aku belum sempat, kamu tahu kan hampir setiap hari aku berangkat pagi dan pulang larut malam? Untuk beristirahat pun masih kurang.
Namun, bagaimana pun kamu adalah bagian dari hidupku. Pembuat berbagai nada dari setiap lantunan yang ku petik. Pelengkap kesatuan lagu yang tercipta dari berbagai lirik.
Kamu penghiburku disaat aku jenuh karena rindu yang semakin mengeruh.
Kamu lah satu-satunya yang tak pernah berhenti menemaniku disaat sepi, disaat aku lelah sendiri.
Apa kamu rindu kepada seorang lelaki paruh baya yang sering merawatmu? Iya, dia ayahku, aku juga merindukannya. Setelah kepergiannya enam bulan yang lalu, aku jadi tidak bergairah bermain gitar lagi.
Setiap kali aku menyentuhmu, rasa rindu ku semakin dalam padanya, seperti ada rasa sesak didalam tenggorokan saat ingin bernyanyi.

Selasa, 15 Januari 2013

Duta Anti LDR

Teruntuk Duta Anti LDR kebangaanku, kak @elnaa_
atau biasa di panggil dengan sebutan Kak El.

Hai kak El,
Apa kabar?
Kita memang belum pernah bertemu dan bertatap mata sebelumnya.
Aku hanya mengenalmu di dunia maya saja. Mungkin kau juga tak mengenal siapa aku.
Aku hanyalah salah satu dari beribu-ribu followers setiamu.
Aku ingin sedikit bercerita bagaimana asal mulanya aku menemukanmu di dunia maya.
Aku lupa persis, saat itu tanggal berapa dan tahun berapa.
Yang aku ingat, saat itu followersmu masih sekitar 3000-an.
Dan alasanku menekan tombol "Follow" adalah karena saat itu aku sedang menjalani sebuah hubungan jarak jauh.
Aku seperti menemukan sebuah titik air dipadang pasir yang tandus, kak.
Seperti melihat sebuah cahaya terang dari ruang kegelapan.
Lambat laun, aku mulai merasakan beberapa resiko menjalani Long Distance Relationship.

Senin, 14 Januari 2013

Teruntuk Sang Pembuat Luka

Hai, kamu. Apa kabar?
Masihkah kamu mengingatku?
Seseorang yang pernah kau kecewakan dulu.
Seseorang yang pernah bertahan ditengah keraguan.

Sekedar kamu tahu saja, kabarku disini baik.
Jauh lebih baik dari saat bersamamu.
Ternyata kesendirianku ini tidak seburuk yang kutakuti.
Aku berhasil menyembuhkan luka hati.
Dengan cepat, tanpa perlu mengorbankan satu hati yang lainnya.

Jumat, 16 November 2012

Surat Untuk Mama dan Papa

Hai mama dan papaku.
Sudah lama tidak menyapa kalian dengan panggilan seperti itu.
Rasanya lidahku mulai canggung untuk menyebutkan kata "Mama" dan "Papa"
Mungkin karena sudah cukup lama aku tidak mengucapkannya secara langsung, hanya didalam hati saja.
Bagaimana keadaan kalian disurga sana?
Tentunya kalian sudah bertemu dan kembali hidup berdua seperti dulu kan?
Aku senang membayangkannya.

Mama, Papa.
Sudah lama tidak bercerita dengan kalian.
Aku belum tahu bagaimana caranya mengirimkan surat ini kerumah allah.
Aku hanya menuliskan disini dan berharap diatas sana tuhan memberikan fasilitas internet untuk umatnya.
Atau fasilitas apa saja yang membuat surat ini dapat kalian baca.

Kamis, 08 November 2012

Senja yang Tak Berwarna

Langit menghitam.
Bersamaan saat tanganmu ku genggam.
Dalam angan.

Kilat terang bergantian datang.
Bersamaan saat hujan.
Aku didalam pelukan kamu yang tersayang.
Dalam harapan.

Tetes gerimis berjatuhan.
Berdenting disebuah atap.
Denganmu yang paling penting, aku betah untuk menetap.

Selasa, 06 November 2012

Darimu...

Darimu aku tahu,
Bagaimana cara menyenangkan diri.
Membuat segala rasa sakit tak nampak lagi.

Darimu aku tahu,
Apa yang kurasa adalah cinta.
Semisal debar pada apa yang kurasa.
Bukan hanya pipi menampakan rona merahnya,
Namun bahagia ada pada setiap detiknya.

Darimu aku tahu,
Bahwa luka akan berujung tawa pada akhirnya.
Semua bergantian pada masanya,
Tak peduli siap atau tidak, ia datang tanpa aba-aba.

Darimu aku tahu,
Segala yang ada pada cinta bukan hanya fatamorgana.
Beberapa dari yang kau beri padaku, aku merasakannya juga.
Dengan nyata dan tak terduga sebelumnya.


Sabtu, 03 November 2012

Bagaimana Jika Nanti...

Bagaimana jika nanti, aku memutuskan untuk melangkah pergi setelah apa yang selama ini kita jalani.

Bagaimana jika nanti, aku menyerah, karena telah lama lelah menunggu hubungan ini yang semakin tak terarah.


Bagaimana jika nanti, aku berpaling, dan akhirnya kamu tau bahwa selama ini hanya kamu yang ku anggap penting.


Bagaimana jika nanti, aku tidak memberimu kabar, membiarkan segala debar semakin cemas dalam ketidakpedulian.


Bagaimana jika nanti, aku tak sanggup lagi menunggu. Akankah kamu melepaskanku? atau membuktikan janjimu untuk memperjuangkanku.


Bagaimana jika nanti, semua rasa cinta ini memudar dan kau terlambat sadar, bahwa selama ini hatiku hanya butuhkanmu untuk bersandar.


Kamis, 01 November 2012

Membutuhkanmu

Aku hanya butuh, Tapi kamu terlalu jauh.
Bahkan rindu telah berjajar menjadi sepanjang jalan yang menyatukan lautan.
Bahkan sepi seringkali pergi dan kembali. Aku tetap sendiri.
Aku sering mengeluh, tentang jarak yang tak pernah mengelap peluh.

Jarak kita memang terlalu jauh.
Seringkali kesepian membuatnya jenuh.
Seringkali rindu berteriak gaduh.
Namun tak jua menemui waktu untuk bertemu.

Aku butuh bahumu, yang mampu melepaskan seluruh penatku.
Aku butuh jemarimu, yang menggenggam erat menguatkan aku.
Aku butuh senyummu, yang mampu menghadirkan ceria ditengah berbagai lara.


Rabu, 31 Oktober 2012

Hujan Akhir Oktober



Gemericik air dari langit turun semakin deras.
Hujan tak juga reda dari sore tadi.
Hujan yang sama masih menuliskan kamu.
bercampur bau tanah basah dan rindu yang semakin menggebu.
Sempat menunggumu ditempat biasa kita bertemu.
Ditempat dimana terjadinya sebuah pertemuan sederhana.
Ditempat dimana kedua mata bertatapan. Kedua bibir terbuka dan saling mengungkap rasa.
Rasa yang begitu indahnya. Cinta.
Ditempat dimana sebuah penyesalan berawal.
Ditempat dimana kedua hati berserakan dan terbukalah beberapa luka yang hingga kini masih menganga.
Aku berdiri cukup lama.
Berharap hujan yang sama akan kembali mempertemukan kita.
Menunggu hujan sedikit reda atau menunggu datangnya senja.
Aku tetap berdiam diri.
Menyilangkan kedua tangan berusaha menghangatkan tubuhku sendiri.

Selasa, 16 Oktober 2012

Jarak Antara Tiga Hati

Currently Listening: Lady Antebellum - Need You Now


Aku, Kamu, Jarak…
Sudah selama ini kita bersama.
Dan ada jarak diantaranya.
Kamu, tidak perlu tau bagaimana khawatirnya aku.
Malam malam yg aku lalui. Dengan begitu banyak prasangka hati.
Kamu tidak ingin tau, bagaimana hati ini lelah sendiri.
Menebak nebak sedang apa kamu di sana.
Menimbang nimbang apakah kamu disana benar-benar memikirkan aku tanpa ada dia disela-selanya.
Aku tidak ingin bertemu.
Karena bertemu denganmu, Cuma memantik bara api rindu.
Jika saja jarak ini bisa aku habiskan dengan mengayuh, berenang bahkan berlari.

Kamu, yang telah lama pergi.

Currently Listening: Secondhand Serenade - Your Call


Waktu yang lama ini.
Yang mungkin bagi kamu bersamanya terlalu begitu singkat.
Tapi aku nggak pernah melaluinya dengan mudah.
Menurutmu, melangkah itu mudah? Enggak… Aku benci
Aku benci mengucap selamat jalan.
Aku benci membasuh kenangan demi kenangan.
Sampai ujungnya aku hanya berakhir pada kepura-puraan.
Aku pura pura mengikhlaskan.
Pura-pura nggak terluka.
Aku pura-pura tetap berjalan kedepan.

Aku Harap, Kamu Baca

Currently Listening: Raisa - Apalah(arti menunggu)

Udah beberapa tetes air mata karena dia yang akhirnya aku hapus dipipi kamu.
Udah berapa senyum yang hilang, yang akhirnya aku yang berusaha munculin lagi.
Kamu mungkin nggak pernah sadar apa yang aku lakuin ini selalu aja tentang kamu.
Semoga kamu bukan nggak mau tau.
Aku nggak terlalu ngerti apa yang sebenarnya aku lakuin.
Aku selalu resah ngelakuin hal untuk kamu.
Bukan soal untuk balasannya.
Tapi aku gelisah ngelakuin ini semua karena cinta atau terpaksa.
Lalu aku bercermin.
Mata aku nggak nunjukin sedikitpun keterpaksaan.
Aku bertahan buat kamu.
Entah, ini tulus apa bodoh.
Aku nggak tau benar tentang cinta.

Rabu, 12 September 2012

Mama ku Kembali, Mama ku Pulang.

Currently listening : Sammy Simorangkir - Kesedihanku


"Maaa... mamaaaaa....." aku memanggilnya setengah berlari.
Wanita yang baru saja aku jumpai saat itu. Mengingatkanku pada almarhum wanita hebat yang melahirkanku. Mama.
Paras wajah cantiknya bukan hanya sama, namun serupa.
Hanya saja model rambutnya sedikit lebih pendek dari rambut mama yang terakhir aku lihat di ruang ICU rumah sakit.
seorang wanita itu menoleh, pancaran sinar matanya membuatku sangat yakin.
Bahwa ia adalah mama.
Aku hampir tidak percaya. Bukannya mama telah dikubur ke dalam tanah satu tahun silam, setelah dokter mendiagnosa mama ku sudah tiada.
Lalu siapa wanita ini? wanita di hadapanku?
Aku langsung dengan sigap mengambil tangannya.
Mencium punggung telapak tangannya. Hangat.
Sejak itu aku merasakan aliran darahku mengalir lebih deras dari biasanya.
Merasakan detak jantungku berdetak luar biasa cepatnya.

Minggu, 02 September 2012

Berhenti



Kamu pernah datang namun tanpa tujuan.
Kamu pernah pergi tanpa alasan yang pasti.
Mencoba menarik ulur hati.
Andai, Aku melewatkan satu kejadian saat bertemu denganmu.
Andai, saat itu aku tidak tersenyum dan membuka sebuah pembicaraan singkat.
Namun apalah guna kini aku berandai-andai?

Aku tahu rasa ini salah.
Namun kau membiarkan rasa ini tetap tumbuh dan utuh di antara sebuah masalah.
Aku pun tahu, aku akan kalah dan menyerah apda akhirnya.
Terlalu sakit berada di posisi yang tidak pernah di inginkan.
Terlalu lemah untuk selalu menjadi bayang-bayang "dia" dalam hidupmu.

Aku tidak bisa lebih lama lagi bertahan.
Berada di posisi ini sungguh tidak menyenangkan.
Aku pun juga butuh kau tenangkan.
Aku pun juga ingin merasa nyaman menjaga sebuah perasaan.


Rabu, 29 Agustus 2012

Tentang Luka...


Aku akan pergi.
Mulai kini, Jangan cari aku lagi.
Aku tahu, Tanpa ku minta itu, kamu pun sudah melakukannya.
Mengabaikan rasa.
Rasa yang dulu pernah kuat kita pertahankan bersama.
Rasa yang dulu ada, melekat dalam diri kita.
Namun kini, Takkan lagi ada kata "kita"
Hanya ada kamu dan aku.
Atau bahkan tidak ada sama sekali.

Aku lebih memilih sendiri untuk diam.
Aku lebih memilih menyelamatkan hati, dan menjaga nya seorang diri.
Tanpa bantuan mu.
Tanpa hadirmu.
Entah, apakah ini yang sebenarnya dari dulu aku butuhkan.
Entah, apa yang dari dulu aku coba pertahankan.
Bukan cinta.
Aku hanya mempertahankan karena aku belum siap kehilangan.

Hati kita pernah sama-sama rusak.

Senin, 27 Agustus 2012

Maaf

Untuk kamu, yang dulu pernah masuk ke relung hati.
Menguasai seluruh jiwa, pikiran dan benak.
Mengekang rindu demi waktu.
Mengekang sendu di antara pilu.
Menggenggam erat jemariku.

Untuk kamu yang membuat tetes air mata pernah jatuh tak beralaskan.
Entah itu pilu atau haru.

Untuk kamu yang membuat jantung ini berfungsi dua kali lebih cepat dari biasanya, ketika kamu menatap kedua mataku dengan tatapan setajam pisau.

Untuk kamu yang membuat rahang ini seketika menjadi kaku, bibir ini menjadi bisu.
Ketika kamu mengungkapkan rasa yang sedemikian indahnya.

Untuk kamu, yang pernah menggenggam erat jemari, dan berjanji tak akan pernah pergi.
Namun, kau kini pergi tak pernah kembali, tanpa menoleh ke belakang walau hanya sekali.

Untuk kamu, yang pernah mengecup kening ini di bawah teriknya matahari dan di bawah sinarnya rembulan di malam hari.

Untuk kamu, yang pernah menghapus air mata ku yang mengalir hangat di pipi. Kemudian berbisik "Aku nggak akan membiarkan kamu menangis" Tapi justru kini kamu menjadi alasan untuk jatuhnya bulir bulir air mata ku.

Untuk kamu yang pernah memeluk ku erat, melampiaskan rindu.
Hingga kini aku masih bisa rasakan hangatnya jatuh dalam dekapan pelukmu.

Untuk kamu, yang pernah membuat aku terdiam dalam luka, membisu karena cemburu.
Dan membuatku merasa tidak di inginkan kehadirannya, Begitu pun sebaliknya.

Terima kasih.

Aku menjadi tegar.
Aku menjadi lebih tau, mana cinta yang palsu.
Mana yang hanya di bibir, mana yang sesungguhnya mengalir.
Mana yang kau rasa, mana yang telah mati rasa.
Aku tau.
Bayangan siapa yang sesungguhnya ada di matamu.
Terima kasih kamu, karena pernah menjadi salah satu alasan untukku terus bertahan.
Karena pernah membiarkan aku merasa, bagaimana rasanya di cintai, bagaimana rasanya di butuhkan dan di ingingkan kehadirannya. Begitupun sebaliknya.
Terima kasih kamu, sering kali kamu mencoba melatih kesabaranku.
Terima kasih, kini aku berdiri dengan tapak kaki yang lebih kuat.
Dengan segala pengalaman dan pelajaran tentang sakit hati yang pernah kamu beri.


Currently Listening : Ecoutez - Maafkan (Tak Sempurna)