Sabtu, 03 November 2012

Bagaimana Jika Nanti...

Bagaimana jika nanti, aku memutuskan untuk melangkah pergi setelah apa yang selama ini kita jalani.

Bagaimana jika nanti, aku menyerah, karena telah lama lelah menunggu hubungan ini yang semakin tak terarah.


Bagaimana jika nanti, aku berpaling, dan akhirnya kamu tau bahwa selama ini hanya kamu yang ku anggap penting.


Bagaimana jika nanti, aku tidak memberimu kabar, membiarkan segala debar semakin cemas dalam ketidakpedulian.


Bagaimana jika nanti, aku tak sanggup lagi menunggu. Akankah kamu melepaskanku? atau membuktikan janjimu untuk memperjuangkanku.


Bagaimana jika nanti, semua rasa cinta ini memudar dan kau terlambat sadar, bahwa selama ini hatiku hanya butuhkanmu untuk bersandar.


Kamis, 01 November 2012

Membutuhkanmu

Aku hanya butuh, Tapi kamu terlalu jauh.
Bahkan rindu telah berjajar menjadi sepanjang jalan yang menyatukan lautan.
Bahkan sepi seringkali pergi dan kembali. Aku tetap sendiri.
Aku sering mengeluh, tentang jarak yang tak pernah mengelap peluh.

Jarak kita memang terlalu jauh.
Seringkali kesepian membuatnya jenuh.
Seringkali rindu berteriak gaduh.
Namun tak jua menemui waktu untuk bertemu.

Aku butuh bahumu, yang mampu melepaskan seluruh penatku.
Aku butuh jemarimu, yang menggenggam erat menguatkan aku.
Aku butuh senyummu, yang mampu menghadirkan ceria ditengah berbagai lara.


Rabu, 31 Oktober 2012

Hujan Akhir Oktober



Gemericik air dari langit turun semakin deras.
Hujan tak juga reda dari sore tadi.
Hujan yang sama masih menuliskan kamu.
bercampur bau tanah basah dan rindu yang semakin menggebu.
Sempat menunggumu ditempat biasa kita bertemu.
Ditempat dimana terjadinya sebuah pertemuan sederhana.
Ditempat dimana kedua mata bertatapan. Kedua bibir terbuka dan saling mengungkap rasa.
Rasa yang begitu indahnya. Cinta.
Ditempat dimana sebuah penyesalan berawal.
Ditempat dimana kedua hati berserakan dan terbukalah beberapa luka yang hingga kini masih menganga.
Aku berdiri cukup lama.
Berharap hujan yang sama akan kembali mempertemukan kita.
Menunggu hujan sedikit reda atau menunggu datangnya senja.
Aku tetap berdiam diri.
Menyilangkan kedua tangan berusaha menghangatkan tubuhku sendiri.

Selasa, 16 Oktober 2012

Jarak Antara Tiga Hati

Currently Listening: Lady Antebellum - Need You Now


Aku, Kamu, Jarak…
Sudah selama ini kita bersama.
Dan ada jarak diantaranya.
Kamu, tidak perlu tau bagaimana khawatirnya aku.
Malam malam yg aku lalui. Dengan begitu banyak prasangka hati.
Kamu tidak ingin tau, bagaimana hati ini lelah sendiri.
Menebak nebak sedang apa kamu di sana.
Menimbang nimbang apakah kamu disana benar-benar memikirkan aku tanpa ada dia disela-selanya.
Aku tidak ingin bertemu.
Karena bertemu denganmu, Cuma memantik bara api rindu.
Jika saja jarak ini bisa aku habiskan dengan mengayuh, berenang bahkan berlari.

Kamu, yang telah lama pergi.

Currently Listening: Secondhand Serenade - Your Call


Waktu yang lama ini.
Yang mungkin bagi kamu bersamanya terlalu begitu singkat.
Tapi aku nggak pernah melaluinya dengan mudah.
Menurutmu, melangkah itu mudah? Enggak… Aku benci
Aku benci mengucap selamat jalan.
Aku benci membasuh kenangan demi kenangan.
Sampai ujungnya aku hanya berakhir pada kepura-puraan.
Aku pura pura mengikhlaskan.
Pura-pura nggak terluka.
Aku pura-pura tetap berjalan kedepan.

Aku Harap, Kamu Baca

Currently Listening: Raisa - Apalah(arti menunggu)

Udah beberapa tetes air mata karena dia yang akhirnya aku hapus dipipi kamu.
Udah berapa senyum yang hilang, yang akhirnya aku yang berusaha munculin lagi.
Kamu mungkin nggak pernah sadar apa yang aku lakuin ini selalu aja tentang kamu.
Semoga kamu bukan nggak mau tau.
Aku nggak terlalu ngerti apa yang sebenarnya aku lakuin.
Aku selalu resah ngelakuin hal untuk kamu.
Bukan soal untuk balasannya.
Tapi aku gelisah ngelakuin ini semua karena cinta atau terpaksa.
Lalu aku bercermin.
Mata aku nggak nunjukin sedikitpun keterpaksaan.
Aku bertahan buat kamu.
Entah, ini tulus apa bodoh.
Aku nggak tau benar tentang cinta.

Rabu, 12 September 2012

Mama ku Kembali, Mama ku Pulang.

Currently listening : Sammy Simorangkir - Kesedihanku


"Maaa... mamaaaaa....." aku memanggilnya setengah berlari.
Wanita yang baru saja aku jumpai saat itu. Mengingatkanku pada almarhum wanita hebat yang melahirkanku. Mama.
Paras wajah cantiknya bukan hanya sama, namun serupa.
Hanya saja model rambutnya sedikit lebih pendek dari rambut mama yang terakhir aku lihat di ruang ICU rumah sakit.
seorang wanita itu menoleh, pancaran sinar matanya membuatku sangat yakin.
Bahwa ia adalah mama.
Aku hampir tidak percaya. Bukannya mama telah dikubur ke dalam tanah satu tahun silam, setelah dokter mendiagnosa mama ku sudah tiada.
Lalu siapa wanita ini? wanita di hadapanku?
Aku langsung dengan sigap mengambil tangannya.
Mencium punggung telapak tangannya. Hangat.
Sejak itu aku merasakan aliran darahku mengalir lebih deras dari biasanya.
Merasakan detak jantungku berdetak luar biasa cepatnya.

Minggu, 02 September 2012

Berhenti



Kamu pernah datang namun tanpa tujuan.
Kamu pernah pergi tanpa alasan yang pasti.
Mencoba menarik ulur hati.
Andai, Aku melewatkan satu kejadian saat bertemu denganmu.
Andai, saat itu aku tidak tersenyum dan membuka sebuah pembicaraan singkat.
Namun apalah guna kini aku berandai-andai?

Aku tahu rasa ini salah.
Namun kau membiarkan rasa ini tetap tumbuh dan utuh di antara sebuah masalah.
Aku pun tahu, aku akan kalah dan menyerah apda akhirnya.
Terlalu sakit berada di posisi yang tidak pernah di inginkan.
Terlalu lemah untuk selalu menjadi bayang-bayang "dia" dalam hidupmu.

Aku tidak bisa lebih lama lagi bertahan.
Berada di posisi ini sungguh tidak menyenangkan.
Aku pun juga butuh kau tenangkan.
Aku pun juga ingin merasa nyaman menjaga sebuah perasaan.


Rabu, 29 Agustus 2012

Tentang Luka...


Aku akan pergi.
Mulai kini, Jangan cari aku lagi.
Aku tahu, Tanpa ku minta itu, kamu pun sudah melakukannya.
Mengabaikan rasa.
Rasa yang dulu pernah kuat kita pertahankan bersama.
Rasa yang dulu ada, melekat dalam diri kita.
Namun kini, Takkan lagi ada kata "kita"
Hanya ada kamu dan aku.
Atau bahkan tidak ada sama sekali.

Aku lebih memilih sendiri untuk diam.
Aku lebih memilih menyelamatkan hati, dan menjaga nya seorang diri.
Tanpa bantuan mu.
Tanpa hadirmu.
Entah, apakah ini yang sebenarnya dari dulu aku butuhkan.
Entah, apa yang dari dulu aku coba pertahankan.
Bukan cinta.
Aku hanya mempertahankan karena aku belum siap kehilangan.

Hati kita pernah sama-sama rusak.

Senin, 27 Agustus 2012

Maaf

Untuk kamu, yang dulu pernah masuk ke relung hati.
Menguasai seluruh jiwa, pikiran dan benak.
Mengekang rindu demi waktu.
Mengekang sendu di antara pilu.
Menggenggam erat jemariku.

Untuk kamu yang membuat tetes air mata pernah jatuh tak beralaskan.
Entah itu pilu atau haru.

Untuk kamu yang membuat jantung ini berfungsi dua kali lebih cepat dari biasanya, ketika kamu menatap kedua mataku dengan tatapan setajam pisau.

Untuk kamu yang membuat rahang ini seketika menjadi kaku, bibir ini menjadi bisu.
Ketika kamu mengungkapkan rasa yang sedemikian indahnya.

Untuk kamu, yang pernah menggenggam erat jemari, dan berjanji tak akan pernah pergi.
Namun, kau kini pergi tak pernah kembali, tanpa menoleh ke belakang walau hanya sekali.

Untuk kamu, yang pernah mengecup kening ini di bawah teriknya matahari dan di bawah sinarnya rembulan di malam hari.

Untuk kamu, yang pernah menghapus air mata ku yang mengalir hangat di pipi. Kemudian berbisik "Aku nggak akan membiarkan kamu menangis" Tapi justru kini kamu menjadi alasan untuk jatuhnya bulir bulir air mata ku.

Untuk kamu yang pernah memeluk ku erat, melampiaskan rindu.
Hingga kini aku masih bisa rasakan hangatnya jatuh dalam dekapan pelukmu.

Untuk kamu, yang pernah membuat aku terdiam dalam luka, membisu karena cemburu.
Dan membuatku merasa tidak di inginkan kehadirannya, Begitu pun sebaliknya.

Terima kasih.

Aku menjadi tegar.
Aku menjadi lebih tau, mana cinta yang palsu.
Mana yang hanya di bibir, mana yang sesungguhnya mengalir.
Mana yang kau rasa, mana yang telah mati rasa.
Aku tau.
Bayangan siapa yang sesungguhnya ada di matamu.
Terima kasih kamu, karena pernah menjadi salah satu alasan untukku terus bertahan.
Karena pernah membiarkan aku merasa, bagaimana rasanya di cintai, bagaimana rasanya di butuhkan dan di ingingkan kehadirannya. Begitupun sebaliknya.
Terima kasih kamu, sering kali kamu mencoba melatih kesabaranku.
Terima kasih, kini aku berdiri dengan tapak kaki yang lebih kuat.
Dengan segala pengalaman dan pelajaran tentang sakit hati yang pernah kamu beri.


Currently Listening : Ecoutez - Maafkan (Tak Sempurna)

Selasa, 24 Juli 2012

Pura-pura Utuh


PURA-PURA UTUH


Masih terasa, sebenarnya masih ada. Di sini. Masih di tempat yang sama.

Sebenarnya di sini masih menangis.

Sebenarnya di sini masih sakit.

Sebenarnya di sini masih ada, tempat yang sama, hanya kali ini terasa berbeda.

Bukan, bukan karena dia.

Sebenarnya aku pura-pura.

Pura-pura menyerah, pura-pura tidak terjadi apa-apa. Di sini.

Pura-pura semuanya baik-baik saja.

Sungguh, pura-pura.

Pura-pura tersenyum mengurai kata ‘kita’.

Pura-pura terlihat bahagia.

Pura-pura merelakan pilihanmu.

Pura-pura utuh. Pura-pura tidak mampu membuatmu utuh.

Bukan, bukan karena dia.

Andai memaafkan datang sepaket dengan melupakan.


Sabtu, 21 Juli 2012

Menjauh.....

Aku tidak tau apa yang terjadi dan menyebabkan semua ini.

Aku hanya tidak ingin menerka-nerka dan melihat ke belakang lagi.
Lelah. Menyerah.
Aku putus asa.
Semua tidak bisa di perbaiki.
Aku pun tidak ingin kembali.
Semakin aku mencoba memperbaiki dengan segala bentuk usaha yang merendahkan diri ku sendiri. Adakah hasilnya? Adakah perubahannya? Tidak.
Semakin aku bersikap ramah dengan segala upaya ku bahkan telah membuang gengsi ku sendiri. Adakah kau lihat itu? Adakah kau merasakannya sedikit saja? Tidak.

Satu kali, Dua kali, Tiga kali aku coba memperbaiki.
NIHIL. Tidak ada hasilnya sama sekali.
Bahkan mungkin aku semakin terlihat rendah dimatamu.
Cukup. Aku tidak ingin mencoba apapun lagi.
Aku bukannya cepat menyerah, namun silahkan kamu cari ke seluruh belahan dunia.
Adakah orang yang akan tetap terus menerus bertahan, jika segala usaha yang ia lakukan sama sekali tidak di hargai? Tidak ada rasanya.

Kamu bilang aku egois. Sekarang bercerminlah.
Terlihat jelas dalam masalah ini siapa yang lebih egois.
Satu persatu dari kita semakin menjauh, semakin memberi jarak.
Dan ini lebih baik dari semuanya.
Aku lega telah berhasil mendorong diriku keluar jauh dari tempatmu berada.
Aku lega karena dengan adanya begini, aku telah menghapus dirimu dari daftar orang yang ku kenal.
tapi aku tidak membencimu, aku hanya menghilangkan respect padamu.
Aku lelah. kita menjauh, lalu mendekat lagi. Selalu seperti itu.
Dan mungkin bisa di pastikan ini terakhir kalinya aku menjauh, karena kita tidak akan lagi menjadi dekat.

"Everything and everyone changes. If you don't progress then you'll always be in the past. Start moving forward instead of staying behind."

Kamis, 19 Juli 2012

Aku Tidak Berhak

Inspired by song: Ecoutez - Percayalah


Enggan Melupakan, Bertahan Dalam Kesakitan
Haruskah terus membiarkan semua kebodohan ini menjadi bagian dalam diriku?
Haruskah terus menerus berbohong menyembunyikan luka?
Senyum ku pun berubah lara, tiada yang bisa menebak bagaimana perasaan didalamnya?
Hatiku pun menyimpan sebuah rahasia, dan tak ada yang tau apa isi nya..
Hanya aku, sang pemilik dan pencipta rasa cinta. Tuhan...

Pernahkah kamu seolah-olah tidak berkata apa-apa, tapi kamu berbicara?
Pernahkah kamu seolah-olah tak bergeming, tapi kamu diam dalam hening?
Pernahkah kamu seolah-olah jatuh cinta, tapi kamu mati rasa?
Pernahkah kamu seolah-olah tertawa bahagia, tapi kamu menahan sakitnya luka?

Ajarkan aku menjadi naif...
Senaif dirimu yang berusaha membunuh cinta yang bahkan tidak bisa kamu buat sirna.
Senaif dirimu yang masih bisa tertawa bahkan disaat melihatku menitikkan air mata.
Atau ajarkan aku menjadi penipu
Yang berusaha mengganti candamu ditengah kesakitanmu..

Haruskah rindu pada yang bukan milik kita?

Senin, 09 Juli 2012

Di Batas Senja



Senja bergeming. Aku diam dalam hening, rindu seketika kering, menjelma pohon tanpa ranting.
Pada senja aku bertanya, "Adakah yang lebih abu daripada rindu yang tak mengenal waktu, pada sesuatu yang semu?
Terkadang kita bersomasi menjadi persegi panjang. Aku,kamu,rindu dan jarak yang menghadang.
Maaf, mungkin memang mauku memilih menyerah
Sepertinya saat ini tak ada lagi yang lebih menyenangkan selain memaki kebodohan diri sendiri.
Kalau tangisan tak lagi bisa menenangkan, lalu dengan air mata apa lagi untuk menumpahkan sesak di hati?
Ini bukan tentang saling menyalahkan, tetapi saling mengingatkan saat yang lain melakukan kesalahan.
Tak perlu diungkapkan sebagaimana engkau telah mengetahui...

Ingat? Saat matahari mulai lelah bersinar cerah.. Disaat matahari mulai malu dan ingin mengilang sebelum bertemu langit berwarna hitam kelam.
Kita berdua sedang bercanda di bawahnya.
Di sore yang sejuk dengan angin yang pelan-pelan meniupkan aromanya.
Dengan angin yang sayup-sayup dapat ku dengar suaranya.
Sebuah perbincangan sederhana namun penuh makna.
Aku menyesal, mengapa disaat matahari berada di tepi senja yang indah.
Disaat matahari mulai turun secara perlahan.
Aku dan kamu tidak menyaksikannya secara benar.
Aku dan kamu malah sibuk sendiri-sendiri dengan pikiran jenuh tak berarti.
Selalu. Disaat seperti ini kita berdua duduk berdampingan. Seiring menikmati keindahan matahari dibatas senja kita juga saling mengungkapkan apa yang ada di dalam benak.
Apa yang tersisa di balik sebuah kata.
Dan adakah luka didalamnya?
Ingatkah tentang itu?
Aku masih menyimpan dengan rapi dalam memori.

Kini, di batas senja yang terakhir.
Di bawah matahari yang mulai malu menunjukkan ceria nya.
Aku ingin menikmati senja dengan cara yang berbeda.
Bukan dengan obrolan sederhana yang kian lama berubah menjadi perbincangan sinis menyindir sebuah perasaan masing-masing.
Aku ingin menikmati senja bersama mu, untuk yang terakhir kali.
Sebelum akhirnya jarak dan kesibukan di diri kita yang akan menjadi pagar pemisahnya.
Aku ingin kita berdua menyaksikan sebuah matahari yang terbenam dan lalu bulan dan bintang akan berdatangan.
Di saat senja menghilang, malam pun datang.
Aku ingin menyambut malam bersamamu.
Malam, dimana semua nya akan menjadi sebuah penutup.
Malam, dimana akan terlahir lah mimpi-mimpi indah dan mimpi yang tak harusnya ada.
Malam, dimana kita berdua akan terjaga dalam tidur di dua tempat yang berbeda.
Aku hanya ingatkan. Barangkali kau hilang ingatan. Aku berharap kau cepat tersadar dari lamunan, tak terlambat menyadari saat aku telah pergi…
Karena aku tidak akan datang untuk kembali lagi.
Aku akan pergi sejauh-jauhnya dari kehidupanmu.
Masih ada waktu untuk mencegah pilihan ku ini.
Temui aku di tempat biasa, di hari dan jam yang sama.
Disaat Senja menunjukkan pesonanya.

Jumat, 06 Juli 2012

Kehilangan Bukan Berarti Gagal



Ada saat dimana kita takut kehilangan, takut untuk melepaskan dia yang kita cintai.

Tetapi ada pula saat dimana kita harus berhenti mencintai dia , bukan karena kita tidak mencintainya lagi namun karena kita menyadari bahwa dia akan lebih berbahagia apabila kita merelakannya pergi.

Kita tidak mau kehilangan seseorang ketika kebahagiaan kita tergantung dari keberadaannya di dekat kita.

Kita tidak mau kehilangan seseorang ketika kita takut tidak menemukan yang seperti dia lagi.

Kita tidak mau kehilangan seseorang ketika kita menilai dia ganteng, cantik, atau memiliki kelebihan dibanding orang lain.

Kita tidak mau kehilangan seseorang ketika kita mengingat begitu banyak kenangan yang indah sudah kita lewati bersama dia.

Kita tidak mau kehilangan seseorang ketika di dalam hati kita berkata "Aku ga bisa! Aku sangat mencintai dia! Kalian ga tau apa yang aku rasain! "

Tapi tak sadarkah kita bahwa

Merelakan dia pergi bukanlah akhir dari dunia melainkan awal sebuah kisah yang baru.

Kita harus melepaskan dia pergi karena kebahagian kita adalah kita yang menentukan sendiri dan bukan tergantung orang lain.

Kita harus melepaskan dia pergi karena saat Tuhan mengambil sesuatu maka Dia juga telah siap menyediakan sesuatu yang lain yang terbaik bagi kita.

Kita harus melepaskan dia pergi karena yang sempurna belum tentu yang terbaik bagi kita.

Kita harus melepaskan dia pergi ketika kenangan kenangan indah itu hanya tinggal masa lalu.

Kita harus melepaskan dia pergi karena hati kita yang lain berkata " Aku ini manusia bodoh, tak ada lagi yang dapat dipertahankan"

Kehilangan sesuatu memang berat namun bukan berarti kita tidak mencapai apa-apa. Namun kita telah memahami sesuatu.

Ada saat mempertahankan, ada saat melepaskan dan ada saat dimana kita harus kehilangan.

Senin, 02 Juli 2012

Ekspektasi Selalu Tertelan di Makan Realita




Aku mengerti, sangat amat mengerti apa yang membuat ini terjadi.
Ini bukan kesalahan, namun ini juga bukan kebenaran.
Aku berada di antara keduanya.
Aku berdiri di titik tengah, dimana semua masalah bisa saja aku langkahi.
Tapi, tidak semudah melompat dan melangkah untuk menghindarinya.
Aku hanya perlu mengatur strategi.
Dimana seharusnya aku lah yang menjadi peran utama dan aku yang mengatur segala realita di hidupku sendiri.
Bukan kamu atau orang lain.
Aku tidak terjebak, karena ini bukan jebakan.
Aku juga tidak terperangkap, karena tidak ada yang memasang perangkap.
Aku hanya tidak berpikir panjang.
Aku hanya........................
Ah, sudahlah.
Aku pun masih terjebak pada sebuah bayangan.
bayangan diriku sendiri, sebuah rasa sesal kah?
Entah, aku belum terlalu yakin untuk bersaksi bahwa aku terlalu mengerti sebuah perasaan ini.
Banyak yang ingin aku jelaskan. Namun, sudikah kamu mendengarkannya sebentar? TIDAK.
Banyak yang ingin aku ungkapkan. Namun, aku selalu terpaku.
Bibir ini seakan terkunci rapat, Menjadi membisu. Bahkan untuk menyampaikan tidak lebih dari satu kata saja.
Kenapa aku selalu bisa untuk menahan semua rasa?
Bahkan perasaan yang sangat ingin aku hindari, yang ingin aku buang secara perlahan.
Aku tidak pernah menginginkan ini.
Aku tidak pernah ingin menjadi korban dan di tuntut untuk bertanggung jawab pada kesalahan yang bahkan aku tak tau pasti.
Aku menyaksikan sesuatu hal, dan merekamnya dalam memori.
Memori ini yang membuatku tidak bisa begitu saja pergi dan angkat kaki lalu meninggalkan semua nya tetap berantakan disini.
Lagi-lagi Angan dan Harapan harus terhenti sampai disini.
Terhenti begitu saja, di makan oleh kenyataan.
Di Makan oleh sebuah penantian yang berujung luka.
Aku belum pernah menyaksikan ini, sebuah ekspektasi di lumat dan di lahap begitu saja oleh sebuah realita.
Entah, apa ini bisa ku sebut dengan Realita, Karena belum jelas dan pasti ada kebenarannya.
Sebuah ekspektasi yang selalu tertalan dalam sekejap bahkan tidak bisa dilihat oleh kasat mata.
Adilkah? jika semua kesalahan yang terjadi selalu kamu limpahkan padaku?
Entah aku memang selalu salah di mata mu, tidak sedikit pun ada kebenaran yang bisa kau lihat.
kau sudah di butakan oleh berbagai macam persepsi diluar sana.
Kau hanya melihat setengah mata, dan itu pun setengah tertutup pula.
Ketika sebuah titik kecil dapat menghapus semua sisi positif dan kebaikan,
Ketika sebuah Harapan bisa saja di makan mentah-mentah oleh sebuah rasa dan kenyataan yang tidak dapat dipastikan apakah kebenarannya.
Yaitu lah, Ekspektasi terkadang selalu tertelan di makan oleh sebuah realita yang fana.

Sebuah Ruang Kosong Bernama........ Rindu.

Sebuah ruang kosong bernama rindu



Aku berjalan disebuah lorong dengan penerangan yang begitu terang. Berjalan terus tanpa henti, tak satu pun langkah kaki yang sempat terhenti. Aku terus menerawang jauh ke depan mencoba menerka dan menebak adakah kebahagiaan didepan sana?
Berjalan jauh tanpa lelah, tanpa satu langkah kaki pun yang terpaku.
Jauh, aku tak tahu telah seberapa jauh berusaha berjalan dari tempat semula aku berdiri, dari tempat semula aku berpijak.
Mencoba menghindar dari semua perasaan bersalah.
Mencoba menjauh dari semua perasaan jenuh.
Aku ingin melupakan semua yang ada.
Semua yang telah terjadi di antara kita biarlah sirna, biarlah menjadi fana.
Aku ingin menjadi amnesia, melupakan semua pertengkaran di antara kita. Pertengkaran yang sama sekali seharusnya tidak ada.
Pertengkaran kecil yang kian menjadi besar karena keegoisan kita.
Namun, entahlah...
Aku sudah berlapang dada untuk mencoba memperbaiki semua, berusaha dan terus berusaha tanpa sekalipun terbesit di benakku untuk menyerah begitu saja tanpa ada hasil yang indah pada nanti waktunya akan tiba.
Aku hanya rindu...
Rindu dimana dulu selalu ada waktu.
Dimana dulu selalu ada canda.
Dimana dulu selalu ada kamu dan aku.
Dimana dulu selalu ada haru.
Dimana dulu selalu ada ceria.
Dimana dulu selalu ada kita.
Aku hanya tidak tahu, kapan ini berakhir?
Kapan diri kita masing-masing mengakhiri semua ini? Semua hal yang tak layak untuk dibiarkan terus terjadi.
Aku hanya tidak tahu, apakah semua bisa kembali?
Kembali seperti masa lalu yang jika dibakar oleh api tak akan habis dan berubah menjadi abu.
Aku hanya ingin semua luka itu sirna.
Ini yang aku inginkan. Sederhana. Sangat sederhana. Tidak membutuhkan apa-apa untuk mewujudkannya.
Hanya membutuhkan kerendahan ego kita.
Dan kedewasaan diri kita.
Itu saja.
Namun, aku tidak tahu apa keinginanmu.
Apakah kamu ingin terus seperti ini dan waktu sendiri yang akan membuat kamu merasa semu.
Apakah kamu yang ingin ini terjadi dan akan melupakan masa-masa dimana ada kita. Ada semuanya yang indah dan tanpa luka.
Aku tidak tahu, dan tidak pernah ingin berusaha menebak apa yang ada didalam hatimu.
Kembali pada sepi, aku terus berjalan didalam lorong cahaya.
Mencari jalan keluar, mencari sebuah pintu yang benar.
Namun, kamu tahu apa yang ku temukan?
Sebuah pintu, pintu coklat yang mulai usang dimakan waktu.
Pintu kayu, yang engselnya mulai rapuh jika disentuh.
Aku mendorong pintu secara perlahan.
Dan berharap inilah jalan keluarnya.
Tapi apa yang ku temukan?
Itu adalah sebuah ruang kosong yang tak berpenghuni.
Sebuah ruang kosong bernama rindu.
Dan aku terkunci didalamnya.
Hanya kamu, yang memiliki kunci untuk mengeluarkan aku dari situ.
Datanglah, keluarkan aku dari sini dan jangan pernah pergi lagi.




Currently Listening: TANGGA - Cinta Tak Mungkin Berhenti

Selasa, 26 Juni 2012

Sebelum kepergian papa


Mungkin selalu ada beberapa tanda-tanda atau sebuah petunjuk berupa mimpi dan sebagainya jika ingin ditinggalkan untuk selamanya oleh orang terdekat.
Tapi, ini tidak. Sebelum meninggalnya alm. mama ku dulu aku mendapatkan tanda-tanda itu sendiri walaupun hanya berupa suara burung gagak di atas rumahku H-2 sebelum akhirnya mama meninggal. Berbeda dengan mama, sebelum papa meninggal tidak ada kejadian atau tanda-tanda aneh.
Namun, sikap papa selama 3 bulan terakhir bisa dibilang sangat manis.
Sangat manis dalam memperlakukan semua anggota keluarga terutama aku.
Aku anak perempuan papa satu-satunya, "anak kesayangan papa" ia menyebutnya demikian.
Dari aku kecil, papa memang selalu menuruti semua keinginanku.
Selama 3 bulan terakhir, setiap malam papa selalu ikut menonton TV dikamarku. Padahal dikamar nya pun ada TV. Papa selalu ikut menonton sinetron atau film yang biasa aku tonton.
Sambil ada obrolan dan candaan kecil disetiap malam dikamarku.
Papa juga jadi lebih sering mengajakku makan berdua atau pergi berdua keluar rumah.
Beberapa malam papa sering bermain gitar kemudian aku yang menyanyi. Menyanyi lagu-lagu di era jaman papa yang sekarang pun masih sering didengar.
Bukan hanya itu, Papa jadi sering menasihati ku seputar urusan mencari pacar. Bahkan papa menyuruh aku membawa pacar kerumah dan mengenalkannya pada papa.

Aku sering bertanya pada papa "papa sayang nggak sama ade?".
dia menjawab diiringi oleh tawa ya sayang dong, anak perempuan papa satu-satunya yang paling bawel gini
papa juga pernah bertanya padaku, "de, kalo misalnya papa meninggal, kamu nangis nggak?
Aku tidak pernah menjawabnya lalu mencari bahan obrolan lain.

Hri jumat tanggal 1 Juni, aku sudah melihat perubahan sikap papa jadi yang lebih menyebalkan dari biasanya. Papa juga nggak nonton TV bahkan masuk ke kamarku seperti biasanya. Sampai pada hari Minggu 3 Juni, ada keributan kecil dirumah.
Dan aku memilih untuk pergi menenangkan diri selama beberapa hari.
Papa memohon padaku "de, jangan pergi. kamu mau kemana? disini aja, papa nggak tau bakal jadi apa kalo kamu pergi. Kamu tau kan semangat hidupnya papa tuh cuma kamu?"
Namun aku tetap pergi, tanpa berani menatap mata papa aku pamit pergi.
Papa nggak mencegah atau menghalangi aku pergi bawa tas ukuran sedang berisi baju-baju untuk beberapa hari. Tapi papa meminta aku mencium tangannya.
"salim sama papa" begitu katanya. Lalu aku pun mencium telapak tangannya dan pergi.

Keesokan harinya, aku berangkat ke kantor.
Dan saat itu sedang chat di email sama salah satu Om ku yang juga adiknya papa.
Aku disuruh pulang cepat, karena papa sakit.
Tapi, aku tidak berusaha meminta ijin pulang cepat dari kantor.
Karna aku pikir papa hanya sakit biasa.
Sore nya saat sampai dirumah, Papa terbaring di atas tempat tidur, Nenekku membacakan yassin di sebelah papa.
Mata papa terpejam, Dari situ bisa kelihatan papa sulit untuk bernafas, karena terdengar berat sekali suara ia mengambil nafas.
kata-kata yang paling aku benci kini aku dengar lagi, setelah hampir satu setengah tahun aku berusaha melupakan kalimat itu. "PAPA KOMA".
Saat itu aku masih berusaha tenang, menahan tangisku. Karena aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada papa.
Aku berusaha mengajak papa bicara "papa, ini ade. Ade udah pulang pa. Maafin ade ya pa, Papa kenapa kayak gini? Bangun pa, ade udah pulang".
Yap dan seketika aku tidak bisa membendung lagi air mata di pelupuk mata ini.
Tidak ada reaksi dari papa.
Aku membacakan yassin dan "La illahailallah" di telinga papa. Juga tidak ada reaksi.
Malamnya papa di bawa ke salah satu rumah sakit. Namun papa dibawa kembali pulang kerumah.
Dan saat itu aku semakin lemas, mendengar kabar dan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Beberapa rumah sakit tidak menerima papa, tim medis hanya mengecek di laboratorium dari urine papa, setelah hasilnya ada. Mereka bisa ambil kesimpulan yang sama sekali sebetulnya tidak berhak berbicara seperti itu layaknya tuhan.
"Maaf, disini nggak bisa terima. Udah susah pak kalau seperti ini, mungkin tinggal nunggu waktu aja saya nggak bisa pastiin di rawat disini pun kondisi nya bisa membaik, mungkin disini bisa koma seminggu, sebulan atau bahkan lebih"
Papa dibawa lagi kerumah, masih dalam kondisi yang sama.
Namun, kaki dan badan papa sudah berubah tidak biru lagi, udah merah seperti biasanya.
Semua keluarga pun agak lega. Nafas papa juga udah nggak terlalu kedengaran berat.
Besoknya semua keluarga kumpul, udah mengikhlaskan papa bagaimana pun keadaan nya biar diberikan yang terbaik untuk papA.

Oiya, papa itu sakit ginjal dan liver, baru ketahuan setelah di test urine di laboratorium itu.
Fungsi ginjal dan livernya juga udah jauh beratus ratus kali lipat melebihi batas normalnya.
Aku dan beberapa anggota keluarga lain tidur diluar kamar, berjarak kurang lebih 3 meter dari papa. Jadi masih bisa ngeliat jelas kondisi papa.
Keesokan harinya saat aku bangun, langsung kaget di bangunin karena Papa udah nggak bernafas lagi.
Aku memegang tangan papa, masih hangat. Namun, urat nadi nya udah nggak berdenyut, dan nafasnya udah nggak berhembus.
Saat itu nggak langsung nangis kayak waktu mama yang meninggal.
Masih beneran nggak nyangka, papa udah nggak ada.
Nggak lama kemudian baru, seakan-akan kayak di Tampar dan sadar kalo ini semua itu nyata.
Satu yang terlintas saat itu adalah yah udah nggak punya siapa-siapa, udah nggak punya orang tua. Terus jadi mikir kemana-mana.
Dan kenapa harus secepat ini ditinggalin sama semuanya. sama mama, sama papa.
Baru aja niat beliin sesuatu barang buat papa pake hasil uang kerja sendiri. Tapi belum sempet ngelakuinnya, allah udah berkehendak.

Tapi inilah jalan takdirnya. Suka nggak suka harus tetap diterima.
Mau nggak mau, hidup pun harus tetap berjalan. Dengan atau tanpa mereka, tanpa papa dan mama.
Jangan ditanya rasanya kayak gimana, jangan ditanya juga gimana cara nya biar bisa ngejalanin dan nerima ini semua.
Karna kalian nggak akan tau dan ngerasain gimana rasanya sebelum kalian yang mengalaminya.
nggak ada maksud apa-apa, cuma mau berbagi cerita dan ngeshare aja.
Semoga setelah kalian baca postingan ini atau postingan aku sebelum-sebelumnya bisa lebih memanfaatkan waktu lagi bersama mereka orang terdekat dan orang tercinta kalian.
Karena, umur orang cuma allah yang tau. Sewaktu-waktu kapanpun itu allah bisa mengambil mereka dari kita :)




Tanggal 6 Juni 2012


Ketakutan dan kekhawatiranku pun terjadi. Ayah, orang tua satu-satunya yang kini ku miliki sudah kembali ke sisi-Nya. Pukul 05.15 Rabu Pagi hembusan nafasnya terhenti, detak jantungnya tak berdegup lagi. Aku masih tertidur saat nenekku mengetahui hal itu lebih dahulu. Saat aku di bangunkan aku kaget dan sontak melompat ke kamar ditempat ayahku di baringkan selama koma 2 hari silam.
Kami. aku kakak, nenek dan kerabat keluarga menjaga papa dari luar kamarnya, kami berempat tidur diluar kamar dan memastikan bisa melihat kondisi papa dari jarak itu. Namun, Saat kakekku keluar rumah untuk sholat shubuh di mushola komplek seperti biasa. Mungkin saat itu pula hembusan nafas terakhir papa.
Begitu di beritakan kalau ayahku sudah tidak ada, aku duduk di sebelah tempat tidurnya. Berusaha sekuat tenaga menahan jatuhnya air mata ini. Berhasil hanya beberapa saat saja. Kemudian tumpah begitu derasnya. Aku memegang tangan papa, berusaha mencari denyut nadi nya. Sudah tidak ku temukan. Ku coba lagi dan lagi. Namun tidak berhasil. Aku meletakkan jari ku tepat di depan lubang hidung papa. Namun tidak ada nafas yang berhembus. Innalillahi wa innailaihi ro'jiun papa sudah di ambil oleh allah, Pulang kembali ke sisi-Nya.

Semua terlalu cepat. Semua pergi menghilang.
Mama, lalu kini Papa pun pergi.
Entah, apa rencana tuhan dibalik semua ini?
Satu persatu meninggalkan aku, yang sebenarnya masih sangat membuthkan kehadiran mereka untuk terus mengajariku dan membimbing ku dalam banyak hal.
Satu persatu kian berlalu dan pergi tak mungkin kembali pulang dan kami berkumpul lagi.
Entahlah, mungkin aku pernah membuat kesalahan fatal sehingga allah membiarkan ini semua terjadi padaku.

Menjadi Yatim Piatu, tidak pernah sedikitpun terpikirkan akan menyandang predikat Anak Yatim Piatu di Umur ku yang belum beranjak genap 18 tahun.
Kepergian mama satu tahun lalu, Seakan memberikanku satu tamparan yang begitu kencang, membawa kepedihan yang hingga kini belum bisa ku lupakan.
Kini, aku seakan menerima beribu ribu tamparan di hidupku, Diwajahku.
Satu rasa kehilangan yang meninggalkan berjuta-juta rasa pedih didalam diri ini, Entah sampai kapan luka ini akan pergi dan aku akan sembuh dari segala rasa bayang-bayang penyesalan dimana-mana.
Sampai kapan hingga pada waktunya aku akan berdiri lagi lalu menyadari kalau hidup ini tidak berhenti sekalipun telah ditinggal mati oleh kedua orang yang sangat teramat aku cintai, Kedua orang tuaku.

Inikah Hidup yang "Sesungguhnya?"

Seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya usia.
Secara tidak langsung semuanya bertambah.
Bertambah dalam arti tidak hanya 'positif' namun juga ke sisi yang 'negatif' itu manusiawi. Jika manusia mengalami perubahan yang bertahap namun tetap sejalan dengan dinamika dan masih dalam batasan yang rasional.
Perubahan itu PASTI ada. Tinggal kita yang bisa melihat dan mengartikan itu. Perubahan yang membawa ke sisi positif atau sebaliknya.

Sejauh ini, sebatas mata memandang. Sebisa telinga mendengar. Aku dan (terpaksa) cara berpikir ku menjadi lebih logis.
Melihat dunia ini lebih luas. Keluar dari lingkungan yang dari dulu 'itu-itu saja' kini aku mencoba mengepakkan sayap ku untuk terbang dan berkeliling lebih jauh lagi. Melihat dari segi lain dan sisi berbeda.
Dimana menjelang usia 18 tahun banyak sekali perjalanan dan pelajaran selama hidup.
Ada sebuah kebaikan yang janggal.
Ada sebuah kebohongan dibalik kejujuran.
Ada sebuah kejadian dibalik peristiwa nyata.
Ada sebuah dusta dibalik rasa cinta.
Ada orang yang bermuka dua dengan meminta belas kasihan untuk dicinta.
Ada orang hobby mengadu "domba" padahal ia tak mengerti apa-apa.
Tragis bukan? Inikah hidup yang sesungguhnya?
Inikah dunia? Yang semakin jelas banyak kesalahan dan orang-orang tak berharga tapi selalu menuntut untuk dihargai orang?
Yang banyak orang gila harta dan tahta hanya untuk sebuah kesenangan dan kebahagiaan di dunia yang fana.
Terkadang kedua mata ini tidak cukup melihat itu semua.
Mata hati yang memperlihatkan kesaksian itu. Asli atau palsunya. Benar atau tidaknya dan kejujuran atau kebohongannya.

Yang aku tau, menilai orang memang tidak baik, jika hanya melihat dari luarnya saja. Karena, belum tentu luarnya buruk namun dari dalam hatinya baik. Berhati-hatilah memilih teman. Pilih dan pertahankan dia yang selalu berusaha mendengarkan keluhanmu. Bukan untuk memberi kamu saran namun kamu sendiri tidak suka melakukannya. Terkadang, kita hanya perlu seorang temen untuk sekedar mendengar keluhan. Bukan untuk ikut campur menyelesaikannya.
Dia yang menerima segala bentuk kekuranganmu dan tidak pernah selangkah pun beranjak melangkah meninggalkanmu pantas kau beri penghargaan sebuah predikat berlabelkan “A True Best Friend”