Selasa, 24 Juli 2012

Pura-pura Utuh


PURA-PURA UTUH


Masih terasa, sebenarnya masih ada. Di sini. Masih di tempat yang sama.

Sebenarnya di sini masih menangis.

Sebenarnya di sini masih sakit.

Sebenarnya di sini masih ada, tempat yang sama, hanya kali ini terasa berbeda.

Bukan, bukan karena dia.

Sebenarnya aku pura-pura.

Pura-pura menyerah, pura-pura tidak terjadi apa-apa. Di sini.

Pura-pura semuanya baik-baik saja.

Sungguh, pura-pura.

Pura-pura tersenyum mengurai kata ‘kita’.

Pura-pura terlihat bahagia.

Pura-pura merelakan pilihanmu.

Pura-pura utuh. Pura-pura tidak mampu membuatmu utuh.

Bukan, bukan karena dia.

Andai memaafkan datang sepaket dengan melupakan.


Sabtu, 21 Juli 2012

Menjauh.....

Aku tidak tau apa yang terjadi dan menyebabkan semua ini.

Aku hanya tidak ingin menerka-nerka dan melihat ke belakang lagi.
Lelah. Menyerah.
Aku putus asa.
Semua tidak bisa di perbaiki.
Aku pun tidak ingin kembali.
Semakin aku mencoba memperbaiki dengan segala bentuk usaha yang merendahkan diri ku sendiri. Adakah hasilnya? Adakah perubahannya? Tidak.
Semakin aku bersikap ramah dengan segala upaya ku bahkan telah membuang gengsi ku sendiri. Adakah kau lihat itu? Adakah kau merasakannya sedikit saja? Tidak.

Satu kali, Dua kali, Tiga kali aku coba memperbaiki.
NIHIL. Tidak ada hasilnya sama sekali.
Bahkan mungkin aku semakin terlihat rendah dimatamu.
Cukup. Aku tidak ingin mencoba apapun lagi.
Aku bukannya cepat menyerah, namun silahkan kamu cari ke seluruh belahan dunia.
Adakah orang yang akan tetap terus menerus bertahan, jika segala usaha yang ia lakukan sama sekali tidak di hargai? Tidak ada rasanya.

Kamu bilang aku egois. Sekarang bercerminlah.
Terlihat jelas dalam masalah ini siapa yang lebih egois.
Satu persatu dari kita semakin menjauh, semakin memberi jarak.
Dan ini lebih baik dari semuanya.
Aku lega telah berhasil mendorong diriku keluar jauh dari tempatmu berada.
Aku lega karena dengan adanya begini, aku telah menghapus dirimu dari daftar orang yang ku kenal.
tapi aku tidak membencimu, aku hanya menghilangkan respect padamu.
Aku lelah. kita menjauh, lalu mendekat lagi. Selalu seperti itu.
Dan mungkin bisa di pastikan ini terakhir kalinya aku menjauh, karena kita tidak akan lagi menjadi dekat.

"Everything and everyone changes. If you don't progress then you'll always be in the past. Start moving forward instead of staying behind."

Kamis, 19 Juli 2012

Aku Tidak Berhak

Inspired by song: Ecoutez - Percayalah


Enggan Melupakan, Bertahan Dalam Kesakitan
Haruskah terus membiarkan semua kebodohan ini menjadi bagian dalam diriku?
Haruskah terus menerus berbohong menyembunyikan luka?
Senyum ku pun berubah lara, tiada yang bisa menebak bagaimana perasaan didalamnya?
Hatiku pun menyimpan sebuah rahasia, dan tak ada yang tau apa isi nya..
Hanya aku, sang pemilik dan pencipta rasa cinta. Tuhan...

Pernahkah kamu seolah-olah tidak berkata apa-apa, tapi kamu berbicara?
Pernahkah kamu seolah-olah tak bergeming, tapi kamu diam dalam hening?
Pernahkah kamu seolah-olah jatuh cinta, tapi kamu mati rasa?
Pernahkah kamu seolah-olah tertawa bahagia, tapi kamu menahan sakitnya luka?

Ajarkan aku menjadi naif...
Senaif dirimu yang berusaha membunuh cinta yang bahkan tidak bisa kamu buat sirna.
Senaif dirimu yang masih bisa tertawa bahkan disaat melihatku menitikkan air mata.
Atau ajarkan aku menjadi penipu
Yang berusaha mengganti candamu ditengah kesakitanmu..

Haruskah rindu pada yang bukan milik kita?

Senin, 09 Juli 2012

Di Batas Senja



Senja bergeming. Aku diam dalam hening, rindu seketika kering, menjelma pohon tanpa ranting.
Pada senja aku bertanya, "Adakah yang lebih abu daripada rindu yang tak mengenal waktu, pada sesuatu yang semu?
Terkadang kita bersomasi menjadi persegi panjang. Aku,kamu,rindu dan jarak yang menghadang.
Maaf, mungkin memang mauku memilih menyerah
Sepertinya saat ini tak ada lagi yang lebih menyenangkan selain memaki kebodohan diri sendiri.
Kalau tangisan tak lagi bisa menenangkan, lalu dengan air mata apa lagi untuk menumpahkan sesak di hati?
Ini bukan tentang saling menyalahkan, tetapi saling mengingatkan saat yang lain melakukan kesalahan.
Tak perlu diungkapkan sebagaimana engkau telah mengetahui...

Ingat? Saat matahari mulai lelah bersinar cerah.. Disaat matahari mulai malu dan ingin mengilang sebelum bertemu langit berwarna hitam kelam.
Kita berdua sedang bercanda di bawahnya.
Di sore yang sejuk dengan angin yang pelan-pelan meniupkan aromanya.
Dengan angin yang sayup-sayup dapat ku dengar suaranya.
Sebuah perbincangan sederhana namun penuh makna.
Aku menyesal, mengapa disaat matahari berada di tepi senja yang indah.
Disaat matahari mulai turun secara perlahan.
Aku dan kamu tidak menyaksikannya secara benar.
Aku dan kamu malah sibuk sendiri-sendiri dengan pikiran jenuh tak berarti.
Selalu. Disaat seperti ini kita berdua duduk berdampingan. Seiring menikmati keindahan matahari dibatas senja kita juga saling mengungkapkan apa yang ada di dalam benak.
Apa yang tersisa di balik sebuah kata.
Dan adakah luka didalamnya?
Ingatkah tentang itu?
Aku masih menyimpan dengan rapi dalam memori.

Kini, di batas senja yang terakhir.
Di bawah matahari yang mulai malu menunjukkan ceria nya.
Aku ingin menikmati senja dengan cara yang berbeda.
Bukan dengan obrolan sederhana yang kian lama berubah menjadi perbincangan sinis menyindir sebuah perasaan masing-masing.
Aku ingin menikmati senja bersama mu, untuk yang terakhir kali.
Sebelum akhirnya jarak dan kesibukan di diri kita yang akan menjadi pagar pemisahnya.
Aku ingin kita berdua menyaksikan sebuah matahari yang terbenam dan lalu bulan dan bintang akan berdatangan.
Di saat senja menghilang, malam pun datang.
Aku ingin menyambut malam bersamamu.
Malam, dimana semua nya akan menjadi sebuah penutup.
Malam, dimana akan terlahir lah mimpi-mimpi indah dan mimpi yang tak harusnya ada.
Malam, dimana kita berdua akan terjaga dalam tidur di dua tempat yang berbeda.
Aku hanya ingatkan. Barangkali kau hilang ingatan. Aku berharap kau cepat tersadar dari lamunan, tak terlambat menyadari saat aku telah pergi…
Karena aku tidak akan datang untuk kembali lagi.
Aku akan pergi sejauh-jauhnya dari kehidupanmu.
Masih ada waktu untuk mencegah pilihan ku ini.
Temui aku di tempat biasa, di hari dan jam yang sama.
Disaat Senja menunjukkan pesonanya.

Jumat, 06 Juli 2012

Kehilangan Bukan Berarti Gagal



Ada saat dimana kita takut kehilangan, takut untuk melepaskan dia yang kita cintai.

Tetapi ada pula saat dimana kita harus berhenti mencintai dia , bukan karena kita tidak mencintainya lagi namun karena kita menyadari bahwa dia akan lebih berbahagia apabila kita merelakannya pergi.

Kita tidak mau kehilangan seseorang ketika kebahagiaan kita tergantung dari keberadaannya di dekat kita.

Kita tidak mau kehilangan seseorang ketika kita takut tidak menemukan yang seperti dia lagi.

Kita tidak mau kehilangan seseorang ketika kita menilai dia ganteng, cantik, atau memiliki kelebihan dibanding orang lain.

Kita tidak mau kehilangan seseorang ketika kita mengingat begitu banyak kenangan yang indah sudah kita lewati bersama dia.

Kita tidak mau kehilangan seseorang ketika di dalam hati kita berkata "Aku ga bisa! Aku sangat mencintai dia! Kalian ga tau apa yang aku rasain! "

Tapi tak sadarkah kita bahwa

Merelakan dia pergi bukanlah akhir dari dunia melainkan awal sebuah kisah yang baru.

Kita harus melepaskan dia pergi karena kebahagian kita adalah kita yang menentukan sendiri dan bukan tergantung orang lain.

Kita harus melepaskan dia pergi karena saat Tuhan mengambil sesuatu maka Dia juga telah siap menyediakan sesuatu yang lain yang terbaik bagi kita.

Kita harus melepaskan dia pergi karena yang sempurna belum tentu yang terbaik bagi kita.

Kita harus melepaskan dia pergi ketika kenangan kenangan indah itu hanya tinggal masa lalu.

Kita harus melepaskan dia pergi karena hati kita yang lain berkata " Aku ini manusia bodoh, tak ada lagi yang dapat dipertahankan"

Kehilangan sesuatu memang berat namun bukan berarti kita tidak mencapai apa-apa. Namun kita telah memahami sesuatu.

Ada saat mempertahankan, ada saat melepaskan dan ada saat dimana kita harus kehilangan.

Senin, 02 Juli 2012

Ekspektasi Selalu Tertelan di Makan Realita




Aku mengerti, sangat amat mengerti apa yang membuat ini terjadi.
Ini bukan kesalahan, namun ini juga bukan kebenaran.
Aku berada di antara keduanya.
Aku berdiri di titik tengah, dimana semua masalah bisa saja aku langkahi.
Tapi, tidak semudah melompat dan melangkah untuk menghindarinya.
Aku hanya perlu mengatur strategi.
Dimana seharusnya aku lah yang menjadi peran utama dan aku yang mengatur segala realita di hidupku sendiri.
Bukan kamu atau orang lain.
Aku tidak terjebak, karena ini bukan jebakan.
Aku juga tidak terperangkap, karena tidak ada yang memasang perangkap.
Aku hanya tidak berpikir panjang.
Aku hanya........................
Ah, sudahlah.
Aku pun masih terjebak pada sebuah bayangan.
bayangan diriku sendiri, sebuah rasa sesal kah?
Entah, aku belum terlalu yakin untuk bersaksi bahwa aku terlalu mengerti sebuah perasaan ini.
Banyak yang ingin aku jelaskan. Namun, sudikah kamu mendengarkannya sebentar? TIDAK.
Banyak yang ingin aku ungkapkan. Namun, aku selalu terpaku.
Bibir ini seakan terkunci rapat, Menjadi membisu. Bahkan untuk menyampaikan tidak lebih dari satu kata saja.
Kenapa aku selalu bisa untuk menahan semua rasa?
Bahkan perasaan yang sangat ingin aku hindari, yang ingin aku buang secara perlahan.
Aku tidak pernah menginginkan ini.
Aku tidak pernah ingin menjadi korban dan di tuntut untuk bertanggung jawab pada kesalahan yang bahkan aku tak tau pasti.
Aku menyaksikan sesuatu hal, dan merekamnya dalam memori.
Memori ini yang membuatku tidak bisa begitu saja pergi dan angkat kaki lalu meninggalkan semua nya tetap berantakan disini.
Lagi-lagi Angan dan Harapan harus terhenti sampai disini.
Terhenti begitu saja, di makan oleh kenyataan.
Di Makan oleh sebuah penantian yang berujung luka.
Aku belum pernah menyaksikan ini, sebuah ekspektasi di lumat dan di lahap begitu saja oleh sebuah realita.
Entah, apa ini bisa ku sebut dengan Realita, Karena belum jelas dan pasti ada kebenarannya.
Sebuah ekspektasi yang selalu tertalan dalam sekejap bahkan tidak bisa dilihat oleh kasat mata.
Adilkah? jika semua kesalahan yang terjadi selalu kamu limpahkan padaku?
Entah aku memang selalu salah di mata mu, tidak sedikit pun ada kebenaran yang bisa kau lihat.
kau sudah di butakan oleh berbagai macam persepsi diluar sana.
Kau hanya melihat setengah mata, dan itu pun setengah tertutup pula.
Ketika sebuah titik kecil dapat menghapus semua sisi positif dan kebaikan,
Ketika sebuah Harapan bisa saja di makan mentah-mentah oleh sebuah rasa dan kenyataan yang tidak dapat dipastikan apakah kebenarannya.
Yaitu lah, Ekspektasi terkadang selalu tertelan di makan oleh sebuah realita yang fana.

Sebuah Ruang Kosong Bernama........ Rindu.

Sebuah ruang kosong bernama rindu



Aku berjalan disebuah lorong dengan penerangan yang begitu terang. Berjalan terus tanpa henti, tak satu pun langkah kaki yang sempat terhenti. Aku terus menerawang jauh ke depan mencoba menerka dan menebak adakah kebahagiaan didepan sana?
Berjalan jauh tanpa lelah, tanpa satu langkah kaki pun yang terpaku.
Jauh, aku tak tahu telah seberapa jauh berusaha berjalan dari tempat semula aku berdiri, dari tempat semula aku berpijak.
Mencoba menghindar dari semua perasaan bersalah.
Mencoba menjauh dari semua perasaan jenuh.
Aku ingin melupakan semua yang ada.
Semua yang telah terjadi di antara kita biarlah sirna, biarlah menjadi fana.
Aku ingin menjadi amnesia, melupakan semua pertengkaran di antara kita. Pertengkaran yang sama sekali seharusnya tidak ada.
Pertengkaran kecil yang kian menjadi besar karena keegoisan kita.
Namun, entahlah...
Aku sudah berlapang dada untuk mencoba memperbaiki semua, berusaha dan terus berusaha tanpa sekalipun terbesit di benakku untuk menyerah begitu saja tanpa ada hasil yang indah pada nanti waktunya akan tiba.
Aku hanya rindu...
Rindu dimana dulu selalu ada waktu.
Dimana dulu selalu ada canda.
Dimana dulu selalu ada kamu dan aku.
Dimana dulu selalu ada haru.
Dimana dulu selalu ada ceria.
Dimana dulu selalu ada kita.
Aku hanya tidak tahu, kapan ini berakhir?
Kapan diri kita masing-masing mengakhiri semua ini? Semua hal yang tak layak untuk dibiarkan terus terjadi.
Aku hanya tidak tahu, apakah semua bisa kembali?
Kembali seperti masa lalu yang jika dibakar oleh api tak akan habis dan berubah menjadi abu.
Aku hanya ingin semua luka itu sirna.
Ini yang aku inginkan. Sederhana. Sangat sederhana. Tidak membutuhkan apa-apa untuk mewujudkannya.
Hanya membutuhkan kerendahan ego kita.
Dan kedewasaan diri kita.
Itu saja.
Namun, aku tidak tahu apa keinginanmu.
Apakah kamu ingin terus seperti ini dan waktu sendiri yang akan membuat kamu merasa semu.
Apakah kamu yang ingin ini terjadi dan akan melupakan masa-masa dimana ada kita. Ada semuanya yang indah dan tanpa luka.
Aku tidak tahu, dan tidak pernah ingin berusaha menebak apa yang ada didalam hatimu.
Kembali pada sepi, aku terus berjalan didalam lorong cahaya.
Mencari jalan keluar, mencari sebuah pintu yang benar.
Namun, kamu tahu apa yang ku temukan?
Sebuah pintu, pintu coklat yang mulai usang dimakan waktu.
Pintu kayu, yang engselnya mulai rapuh jika disentuh.
Aku mendorong pintu secara perlahan.
Dan berharap inilah jalan keluarnya.
Tapi apa yang ku temukan?
Itu adalah sebuah ruang kosong yang tak berpenghuni.
Sebuah ruang kosong bernama rindu.
Dan aku terkunci didalamnya.
Hanya kamu, yang memiliki kunci untuk mengeluarkan aku dari situ.
Datanglah, keluarkan aku dari sini dan jangan pernah pergi lagi.




Currently Listening: TANGGA - Cinta Tak Mungkin Berhenti

Selasa, 26 Juni 2012

Sebelum kepergian papa


Mungkin selalu ada beberapa tanda-tanda atau sebuah petunjuk berupa mimpi dan sebagainya jika ingin ditinggalkan untuk selamanya oleh orang terdekat.
Tapi, ini tidak. Sebelum meninggalnya alm. mama ku dulu aku mendapatkan tanda-tanda itu sendiri walaupun hanya berupa suara burung gagak di atas rumahku H-2 sebelum akhirnya mama meninggal. Berbeda dengan mama, sebelum papa meninggal tidak ada kejadian atau tanda-tanda aneh.
Namun, sikap papa selama 3 bulan terakhir bisa dibilang sangat manis.
Sangat manis dalam memperlakukan semua anggota keluarga terutama aku.
Aku anak perempuan papa satu-satunya, "anak kesayangan papa" ia menyebutnya demikian.
Dari aku kecil, papa memang selalu menuruti semua keinginanku.
Selama 3 bulan terakhir, setiap malam papa selalu ikut menonton TV dikamarku. Padahal dikamar nya pun ada TV. Papa selalu ikut menonton sinetron atau film yang biasa aku tonton.
Sambil ada obrolan dan candaan kecil disetiap malam dikamarku.
Papa juga jadi lebih sering mengajakku makan berdua atau pergi berdua keluar rumah.
Beberapa malam papa sering bermain gitar kemudian aku yang menyanyi. Menyanyi lagu-lagu di era jaman papa yang sekarang pun masih sering didengar.
Bukan hanya itu, Papa jadi sering menasihati ku seputar urusan mencari pacar. Bahkan papa menyuruh aku membawa pacar kerumah dan mengenalkannya pada papa.

Aku sering bertanya pada papa "papa sayang nggak sama ade?".
dia menjawab diiringi oleh tawa ya sayang dong, anak perempuan papa satu-satunya yang paling bawel gini
papa juga pernah bertanya padaku, "de, kalo misalnya papa meninggal, kamu nangis nggak?
Aku tidak pernah menjawabnya lalu mencari bahan obrolan lain.

Hri jumat tanggal 1 Juni, aku sudah melihat perubahan sikap papa jadi yang lebih menyebalkan dari biasanya. Papa juga nggak nonton TV bahkan masuk ke kamarku seperti biasanya. Sampai pada hari Minggu 3 Juni, ada keributan kecil dirumah.
Dan aku memilih untuk pergi menenangkan diri selama beberapa hari.
Papa memohon padaku "de, jangan pergi. kamu mau kemana? disini aja, papa nggak tau bakal jadi apa kalo kamu pergi. Kamu tau kan semangat hidupnya papa tuh cuma kamu?"
Namun aku tetap pergi, tanpa berani menatap mata papa aku pamit pergi.
Papa nggak mencegah atau menghalangi aku pergi bawa tas ukuran sedang berisi baju-baju untuk beberapa hari. Tapi papa meminta aku mencium tangannya.
"salim sama papa" begitu katanya. Lalu aku pun mencium telapak tangannya dan pergi.

Keesokan harinya, aku berangkat ke kantor.
Dan saat itu sedang chat di email sama salah satu Om ku yang juga adiknya papa.
Aku disuruh pulang cepat, karena papa sakit.
Tapi, aku tidak berusaha meminta ijin pulang cepat dari kantor.
Karna aku pikir papa hanya sakit biasa.
Sore nya saat sampai dirumah, Papa terbaring di atas tempat tidur, Nenekku membacakan yassin di sebelah papa.
Mata papa terpejam, Dari situ bisa kelihatan papa sulit untuk bernafas, karena terdengar berat sekali suara ia mengambil nafas.
kata-kata yang paling aku benci kini aku dengar lagi, setelah hampir satu setengah tahun aku berusaha melupakan kalimat itu. "PAPA KOMA".
Saat itu aku masih berusaha tenang, menahan tangisku. Karena aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada papa.
Aku berusaha mengajak papa bicara "papa, ini ade. Ade udah pulang pa. Maafin ade ya pa, Papa kenapa kayak gini? Bangun pa, ade udah pulang".
Yap dan seketika aku tidak bisa membendung lagi air mata di pelupuk mata ini.
Tidak ada reaksi dari papa.
Aku membacakan yassin dan "La illahailallah" di telinga papa. Juga tidak ada reaksi.
Malamnya papa di bawa ke salah satu rumah sakit. Namun papa dibawa kembali pulang kerumah.
Dan saat itu aku semakin lemas, mendengar kabar dan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Beberapa rumah sakit tidak menerima papa, tim medis hanya mengecek di laboratorium dari urine papa, setelah hasilnya ada. Mereka bisa ambil kesimpulan yang sama sekali sebetulnya tidak berhak berbicara seperti itu layaknya tuhan.
"Maaf, disini nggak bisa terima. Udah susah pak kalau seperti ini, mungkin tinggal nunggu waktu aja saya nggak bisa pastiin di rawat disini pun kondisi nya bisa membaik, mungkin disini bisa koma seminggu, sebulan atau bahkan lebih"
Papa dibawa lagi kerumah, masih dalam kondisi yang sama.
Namun, kaki dan badan papa sudah berubah tidak biru lagi, udah merah seperti biasanya.
Semua keluarga pun agak lega. Nafas papa juga udah nggak terlalu kedengaran berat.
Besoknya semua keluarga kumpul, udah mengikhlaskan papa bagaimana pun keadaan nya biar diberikan yang terbaik untuk papA.

Oiya, papa itu sakit ginjal dan liver, baru ketahuan setelah di test urine di laboratorium itu.
Fungsi ginjal dan livernya juga udah jauh beratus ratus kali lipat melebihi batas normalnya.
Aku dan beberapa anggota keluarga lain tidur diluar kamar, berjarak kurang lebih 3 meter dari papa. Jadi masih bisa ngeliat jelas kondisi papa.
Keesokan harinya saat aku bangun, langsung kaget di bangunin karena Papa udah nggak bernafas lagi.
Aku memegang tangan papa, masih hangat. Namun, urat nadi nya udah nggak berdenyut, dan nafasnya udah nggak berhembus.
Saat itu nggak langsung nangis kayak waktu mama yang meninggal.
Masih beneran nggak nyangka, papa udah nggak ada.
Nggak lama kemudian baru, seakan-akan kayak di Tampar dan sadar kalo ini semua itu nyata.
Satu yang terlintas saat itu adalah yah udah nggak punya siapa-siapa, udah nggak punya orang tua. Terus jadi mikir kemana-mana.
Dan kenapa harus secepat ini ditinggalin sama semuanya. sama mama, sama papa.
Baru aja niat beliin sesuatu barang buat papa pake hasil uang kerja sendiri. Tapi belum sempet ngelakuinnya, allah udah berkehendak.

Tapi inilah jalan takdirnya. Suka nggak suka harus tetap diterima.
Mau nggak mau, hidup pun harus tetap berjalan. Dengan atau tanpa mereka, tanpa papa dan mama.
Jangan ditanya rasanya kayak gimana, jangan ditanya juga gimana cara nya biar bisa ngejalanin dan nerima ini semua.
Karna kalian nggak akan tau dan ngerasain gimana rasanya sebelum kalian yang mengalaminya.
nggak ada maksud apa-apa, cuma mau berbagi cerita dan ngeshare aja.
Semoga setelah kalian baca postingan ini atau postingan aku sebelum-sebelumnya bisa lebih memanfaatkan waktu lagi bersama mereka orang terdekat dan orang tercinta kalian.
Karena, umur orang cuma allah yang tau. Sewaktu-waktu kapanpun itu allah bisa mengambil mereka dari kita :)




Tanggal 6 Juni 2012


Ketakutan dan kekhawatiranku pun terjadi. Ayah, orang tua satu-satunya yang kini ku miliki sudah kembali ke sisi-Nya. Pukul 05.15 Rabu Pagi hembusan nafasnya terhenti, detak jantungnya tak berdegup lagi. Aku masih tertidur saat nenekku mengetahui hal itu lebih dahulu. Saat aku di bangunkan aku kaget dan sontak melompat ke kamar ditempat ayahku di baringkan selama koma 2 hari silam.
Kami. aku kakak, nenek dan kerabat keluarga menjaga papa dari luar kamarnya, kami berempat tidur diluar kamar dan memastikan bisa melihat kondisi papa dari jarak itu. Namun, Saat kakekku keluar rumah untuk sholat shubuh di mushola komplek seperti biasa. Mungkin saat itu pula hembusan nafas terakhir papa.
Begitu di beritakan kalau ayahku sudah tidak ada, aku duduk di sebelah tempat tidurnya. Berusaha sekuat tenaga menahan jatuhnya air mata ini. Berhasil hanya beberapa saat saja. Kemudian tumpah begitu derasnya. Aku memegang tangan papa, berusaha mencari denyut nadi nya. Sudah tidak ku temukan. Ku coba lagi dan lagi. Namun tidak berhasil. Aku meletakkan jari ku tepat di depan lubang hidung papa. Namun tidak ada nafas yang berhembus. Innalillahi wa innailaihi ro'jiun papa sudah di ambil oleh allah, Pulang kembali ke sisi-Nya.

Semua terlalu cepat. Semua pergi menghilang.
Mama, lalu kini Papa pun pergi.
Entah, apa rencana tuhan dibalik semua ini?
Satu persatu meninggalkan aku, yang sebenarnya masih sangat membuthkan kehadiran mereka untuk terus mengajariku dan membimbing ku dalam banyak hal.
Satu persatu kian berlalu dan pergi tak mungkin kembali pulang dan kami berkumpul lagi.
Entahlah, mungkin aku pernah membuat kesalahan fatal sehingga allah membiarkan ini semua terjadi padaku.

Menjadi Yatim Piatu, tidak pernah sedikitpun terpikirkan akan menyandang predikat Anak Yatim Piatu di Umur ku yang belum beranjak genap 18 tahun.
Kepergian mama satu tahun lalu, Seakan memberikanku satu tamparan yang begitu kencang, membawa kepedihan yang hingga kini belum bisa ku lupakan.
Kini, aku seakan menerima beribu ribu tamparan di hidupku, Diwajahku.
Satu rasa kehilangan yang meninggalkan berjuta-juta rasa pedih didalam diri ini, Entah sampai kapan luka ini akan pergi dan aku akan sembuh dari segala rasa bayang-bayang penyesalan dimana-mana.
Sampai kapan hingga pada waktunya aku akan berdiri lagi lalu menyadari kalau hidup ini tidak berhenti sekalipun telah ditinggal mati oleh kedua orang yang sangat teramat aku cintai, Kedua orang tuaku.

Inikah Hidup yang "Sesungguhnya?"

Seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya usia.
Secara tidak langsung semuanya bertambah.
Bertambah dalam arti tidak hanya 'positif' namun juga ke sisi yang 'negatif' itu manusiawi. Jika manusia mengalami perubahan yang bertahap namun tetap sejalan dengan dinamika dan masih dalam batasan yang rasional.
Perubahan itu PASTI ada. Tinggal kita yang bisa melihat dan mengartikan itu. Perubahan yang membawa ke sisi positif atau sebaliknya.

Sejauh ini, sebatas mata memandang. Sebisa telinga mendengar. Aku dan (terpaksa) cara berpikir ku menjadi lebih logis.
Melihat dunia ini lebih luas. Keluar dari lingkungan yang dari dulu 'itu-itu saja' kini aku mencoba mengepakkan sayap ku untuk terbang dan berkeliling lebih jauh lagi. Melihat dari segi lain dan sisi berbeda.
Dimana menjelang usia 18 tahun banyak sekali perjalanan dan pelajaran selama hidup.
Ada sebuah kebaikan yang janggal.
Ada sebuah kebohongan dibalik kejujuran.
Ada sebuah kejadian dibalik peristiwa nyata.
Ada sebuah dusta dibalik rasa cinta.
Ada orang yang bermuka dua dengan meminta belas kasihan untuk dicinta.
Ada orang hobby mengadu "domba" padahal ia tak mengerti apa-apa.
Tragis bukan? Inikah hidup yang sesungguhnya?
Inikah dunia? Yang semakin jelas banyak kesalahan dan orang-orang tak berharga tapi selalu menuntut untuk dihargai orang?
Yang banyak orang gila harta dan tahta hanya untuk sebuah kesenangan dan kebahagiaan di dunia yang fana.
Terkadang kedua mata ini tidak cukup melihat itu semua.
Mata hati yang memperlihatkan kesaksian itu. Asli atau palsunya. Benar atau tidaknya dan kejujuran atau kebohongannya.

Yang aku tau, menilai orang memang tidak baik, jika hanya melihat dari luarnya saja. Karena, belum tentu luarnya buruk namun dari dalam hatinya baik. Berhati-hatilah memilih teman. Pilih dan pertahankan dia yang selalu berusaha mendengarkan keluhanmu. Bukan untuk memberi kamu saran namun kamu sendiri tidak suka melakukannya. Terkadang, kita hanya perlu seorang temen untuk sekedar mendengar keluhan. Bukan untuk ikut campur menyelesaikannya.
Dia yang menerima segala bentuk kekuranganmu dan tidak pernah selangkah pun beranjak melangkah meninggalkanmu pantas kau beri penghargaan sebuah predikat berlabelkan “A True Best Friend”

Selasa, 29 Mei 2012

Tulisan Mama

Selamat pagi blogger :) udah lama nggak memposting satu cerita pengalaman gua buat di ceritain ke kalian semua nih. cerita ini beneran nyata terjadi, salah satu dari sekian banyak perlakuin kecil dari almh. mama buat gua yang terkadang bikin gua netesin air mata kalau ingat ini.

Waktu awal masuk SMA, itu kan banyak banget berkas yang harus di kumpulin. Termasuk salah satunya biodata pribadi siswa. Dikasih deadline sama wali kelas tapi gua tetap telat ngumpulinnya. Sebenarnya data pribadi sih udah selesai, tapi cetak foto yang belum hehe sampai pada akhirnya gua di panggil sama guru BP. Ini pertama kali nya di panggil guru BP dalam status bersalah. Ya walaupun bukan masalah besar kan? Terus disitu gua dikasih hukuman gara-gara telat mengumpulkan data diri, katanya gua memperlambat kinerja kerja guru lain yang harusnya menginput data diri siswa. Hduh ribet deh. Gua dikasih hukuman suruh nulis kalimat "saya berjanji akan mengumpulkan tugas dengan tepat waktu" sebanyak satu buku penuh bolak balik halaman dan tanpa dilangkah. Kebayang kan males dan banyaknya kayak apa? walaupun gua udah nyobek halaman-halaman didalam buku tulis itu tetap aja masih banyak. Akhirnya seharian penuh selama disekolah gua mulai mencicil nulis kalimat itu dibuku. Sama halnya pas sampe dirumah. Abis makan nggak pake lanjut tidur siang, tapi langsung ngerjain hukuman itu. Ternyata sampe malam harinya pun belum selesai juga. Masih tersisa beberapa lembar halaman lagi. Saat itu mama tau kalau gua lagi di hukum, dia nggak nyalahin gua. Karena emang itu termasuk hal sepele lah yang nggak harus dipermasalahin.
Pagi-pagi pas gua bangun tidur gua baru sadar kalau hukumannya belum selesai gua kerjain dan harus dikumpulin hari ini, kalau nggak mau hukumannya bertambah. Gua langsung buka buku ke halaman yang masih kosong. Tapi apa? Nggak ada halaman kosong itu. Saat itu gua langsung tau, tulisan mama di halaman-halaman terakhir itu. Jadi mama bantu ngerjain hukuman gua? Mungkin mama kasian ngeliat gua ngerjain hukuman seharian sampe ketiduran. Dan nggak kepikiran sama sekali kalau mama bantuin gua sampe ke hal kecil kayak gitu. Pas gua tanya ke mama dia cuma jawab "abis mama nggak tega ngeliat anak mama ketiduran di atas buku gitu, mama kerjain aja deh :) " Sederhana banget kan pertolongan mama? Tapi sungguh, itu yang buat gua terharu. Mama memperhatikan semua kebutuhan anaknya dari hal-hal kecil sekaligus.
Hal-hal kecil yang nggak gampang gua lupain, yang selalu mudah buat gua inget dan terharu saat inget itu semua.

Minggu, 15 April 2012

My Biggest Idol

Setiap manusia saya yakin, mereka mempunyai pandangan tersendiri dan berbeda-beda tentang seorang Idola. Begitu pun saya, di setiap bidang saya memiliki banyak idola berbeda. Seperti penyanyi mancanegara favorite saya adalah Brian Mcknight. Penyanyi dalam negeri idola saya adalah trio GAC (Gamal, Audrey, Cantika) dan Raisa Andriana. Penulis idola saya adalah mbak Dewi 'dee' lestari. Dan masih banyak lagi. Namun selama hidup saya dan dimulai dari saya dilahirkan ke dunia ini sampai akhir hayat saya menutup mata dan menghembuskan nafas terakhir saya. Idola terbesar dan terhebat adalah seorang IBU. Terlebih Ibu saya sendiri. 
Mungkin semua anak mengidolakan ibu nya. Namun, kata idola ini mempunyai persepsi berbeda-beda. Saya bukan hanya mengidolakan ibu saya, namun juga mengaguminya, mencintainya dengan segenap jiwa raga saya. Mengapa demikian? Karena sebuah pengorbanannya tentu saja. Bisakah kalian menghitung pengorbanan seorang ibu? Menggunakan kalkulator sekalipun rasanya tidak mungkin. Jumlahnya terlampau banyak. Dan jika aku diminta untuk menuliskan semua kehebatan ibu ku diatas suatu kertas putih. Aku rasa, aku perlu membabat semua pohon di belantara bumi ini untuk menjadikannya kertas. Ibu ku tidak pernah mengeluh, sekalipun suatu masalah besar datang pada kehidupan kami. Ia tetap tersenyum dan mengatakan semua nya baik-baik saja. Sampai pada saat kesehatan ibu ku mulai menurun dan memburuk. Iya hanya berkata "mama nggak kenapa kenapa kok, cuma sakit perut aja. Nanti minum obat maag juga sembuh. Itu mama bikinin bekal buat di sekolah, kamu sekolah aja" sambil tersenyum menahan rasa sakit yang ia rasakan itu. Bahkan dalam keadaan menahan sakit, ibu ku masih sempat dan berusaha membuatkan ku bekal sarapan ke sekolah. Tidak pernah menyangka sebelumnya, apalagi sampai memikirkan hal buruk itu. Bahwa itu adalah masakan terakhir dan bekal dari mama yang terakhir kali nya. Siangnya saat aku pulang sekolah, mama sudah ingin dibawa ke Rumah sakit. Aku sempat menemani nya beberapa saat di ruang UGD. Wajah cantiknya pucat badannya pun lemas, namun mama ku masih bisa naik ke atas tempat tidur di ruang UGD dengan sendiri. "mama udah nggak kuat de" sambil merintih kesakitan mama memegangi perutnya, berbicara lirih menahan air mata, menahan rasa sakitnya. Kata-kata yang aku benci itu keluar dari mulut mama berulang-ulang kali. Aku hanya bisa menenangkannya dibalik rasa cemasku "mama harus kuat, mama pasti baik-baik aja kok, tahan ya ma" namun aku tidak setegar mama. Air mata di pelupuk mata ku sudah tidak tertahankan. Tidak lama mama di pindahkan ke ruang rawat inap. Kondisinya belum membaik, mama masih merintih kesakitan, memegangi perutnya. Saat malam hari, aku pamit pulang padanya, membiarkan kakak tunggal ku yang menjaganya. Karna besok hari aku harus sekolah. Ada beberapa kata yang ingin aku ucapkan padanya sebelum pulang, namun aku tidak bisa mengucapkannya. Bahkan saat berpamitan, aku tidak kuasa untuk mencium kening atau pipi nya. Aku takut, tangisku akan meledak lagi saat itu. Aku hanya berkata "ma, ade pulang dulu ya besok kan mau sekolah" sambil mencium tangannya. "Iya, besok pulang sekolah langsung kesini ya, jagain mama" mama berkata lemas. Aku hanya mengangguk. Saat sampai dirumah aku pun masih dalam keadaan cemas, membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi. Esok hari nya saat aku bersiap-siap berangkat ke sekolah. Ada satu telepon mengejutkan, bahwa mama kondisinya memburuk dan sudah koma berada di ruang ICU. Seluruh keluarga menuju rumah sakit. Dan saat aku masuk ke ruang ICU. Mama sudah tidak sadarkan diri, mama koma. Napasnya pun di bantu oleh alat untuk memompa jantungnya. Telapak kaki mama sudah dingin dan kaku. Bisakah kamu menghitung berapa air mata yang menetes dipipiku? Aku memeluknya, mencium wajahnya, membisikkan kata "La illahailallah" sebanyak-banyaknya di telinga beliau. Aku pun meminta maaf padanya. Setelah itu aku membacakan surat yasin di telinga mama. Namun, belum selesai aku membacakan surat yasin, seorang suster mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya "maaf, ibu ini sudah nggak ada". Aku teriak, aku tak kuasa menangis, bukan hanya menangis, namun juga menyesal. Aku tidak percaya, aku memegang wajah mama dan mencoba membangunkannya. Lagi dan lagi. Namun tidak berhasil. Mamaku sudah tiada, semua berlalu begitu cepat, sulit untuk ku percaya. Badanku jatuh ke lantai, terkulai lemas. Sebagian jiwa dan hidupku sudah pergi, sudah hilang dan tak akan bisa kembali. Mama, dia lah setengah jiwaku. Wanita terhebat dalam hidupku, motivator terbesarku, Mama sang idolaku.

Sabtu, 28 Januari 2012

That's what friend are for #7 Rizky Aditya Herdiana

Namanya kiki, Seorang murid pindahan dari SMP 177 Jakarta. Pindah ke sekolah gue waktu kelas 8 semester 2 kalo nggak salah.
Pertama tau mau ada murid baru, gue yang lagi kumpul sama sahabat sahabat gue yang lain langsung agak heboh. Soalnya muka kiki ini tuh ngeselin! Minta di usir hehehe minta di labrak. Sombong sombong gimana gitu, keliling sekolah gue tapi matanya nunduk ke hp terus. Eh pas tau dia bakal pindah ke kelas gue. Yah gimana ya, nggak kenapa napa sih hehe waktu itu akhirnya dia duduk semeja sama gue. Awalnya sih masih diem gitu, malu malu lah biasa. Eh pas udah 3 hari sekolah mulai keliatan kalo dia bawel banget hahaha seru sih tapi. Dia agak pinter cuma ya sedikit oneng hehe :D
Kiki ini juga manja banget orangnya, duduk semeja sama orang kayak gini butuh kesabaran ekstra.
Kita jadi lumayan deket disitu, sempet punya panggilan aneh juga hehe karna gue itu orangnya suka tokoh kartun popeye. Dan karna gue orangnya stronger gitu jadi gue di panggil kiki 'popeye' terus karna kiki orangnya manja dan agak cempreng jadi gue panggil 'olive'. Oh iya, waktu itu gue kerumah kiki karna dia bilang mau pindah lagi. Tapi masih belum pasti. Yaudah gue kasih kenang-kenangan berupa mug popeye gitu ada 2 kalo nggak salah, eh dia dengan entengnya ngomong "yah tha, gelasnya pecah" aaaaah kesel nggak sih?! Hehe untung gue orangnya sabar jadi yaudah nggak masalah deh toh cuma mug doang. Pas kenaikan kelas 9. Ternyata kiki beneran pindah :'( dia nggak pamit sama gue, sedih banget. Pas bagi rapot gue nggak ikut, jadi nggak ketemu kiki buat yang terakhir di Tangerang.
Tapi kita masih sering sms atau di facebook ngobrol gitu. Persahabatan gue dan kiki masih berjalan sampe sekarang lho. Padahal kenalnya juga nggak lama ya cuma duduk semeja selama kurang lebih 6 bulan.
Januari 2010 juga gue nekat pergi ke cirebon, tempat dia tinggal. Naik Kereta. Itu pertama kalinya gue pergi keluar kota, naik kereta tanpa di temenin orang tua. Nginep semalam dirumahnya. Dia nggak berubah, masih rame kayak dulu cuma lebih tinggi. Mungkin karna kelebihan gizi kali ya :)
Sama kiki nggak pernah ada masalah sih, kita seru-seruan aja orangnya. Curhat-curhatan aja kayak biasa. Dan bersahabat sama kiki itu menyenangkan hehe anaknya childish soalnya jadi lucu aja bawaannya :)
Sampe sekarang gue belum ketemu kiki lagi, kangen banget rasanya. Kalo ketemu niatnya gue yang pengen nyubitin dia, pasti malah jadi gue yang di cubitin, malah sakit banget lagi. Niatnya gue yang pengen jambakin rambutnya, pasti malah balik gue yang di jambakin. Dasar curang! Hehe semoga nanti pas liburan setelah UN gue bisa kesana ya ki, kita ketemu, kangen kangenan, cerita cerita :')
That's what friend are for.

That's what friend are for #6 Dian Ayu Pratiwi

Biasa gue panggil Dian. Tapi sekarang dia lebih sering di panggil sama baday. Entah kenapa juga gue nggak ngerti.
Persahabatan gue sama dian ini agak sedikit rumit. Persahabatan gue sama dian di mulai di kelas Bahasa Inggris pas MBS waktu pertama kali masuk SMP. Berawal dari situ, akhirnya kita berteman, sering pulang bareng karna kebetulan saat itu rumah kita searah.
Gue sama dian termasuk yang sering berantem juga. Wajar sih, berantem dari hal yang nggak penting sampe ke hal yang penting sekalipun.
Tapi ujungnya ya pasti kita baikan juga kayak biasanya.
Gue lebih nganggep dian itu ke adik gue, mungkin karna badannya lebih kecil dari gue hehe padahal umur dian lebih tua beberapa bulan dari gue.
Banyak hal mengharukan selama kurang lebih 3 tahun satu sekolah sama dian.
Ada beberapa hal penting juga yang secara nggak langsung dian kasih ke gue, sampe sekarang masih gua lakuin. Dian ngajarin gue beberapa hal juga. Yah itulah guna nya sahabat.
Oiya, harusnya gue sama dian ini masuk ke museum sejarah lho. Kita pencetus sebutan 'bat' yang artinya itu sahabat. Cuma dulu awal mulanya, 'bat' itu di tulis 'bhad'.
Persahabatan gue sama dian ini punya 3 saksi. Boneka boneka hehe yang boneka anjing dari dian buat gue. sampe 2 boneka yang pernah gue kasih ke dian namanya Dita, boneka beruang berjaket pink yang di jaketnya itu ada tulisan yang sengaja gue bordir :) sama boneka Taddy namanya, boneka beruangnya Mr. Bean.
Ada juga 1 kalung. Di kalung itu ada janji persahabatan kita yang bunyi nya "Sahabat sejati selalu ada di hati, dan takkan terpisahkan sampai nanti kita mati" itu gue yang bikin sendiri kata-katanya.
Selain itu, persahabatan gue sama dian di abadikan ke sebuah buku. Ya karna gue dari SD itu hobby banget baca dan nulis. Akhirnya gue mencoba memberikan sebuah kenangan didalam buku tersebut. 1 buku itu gue tulis sendiri pake tulisan tangan.
Dan dian juga memberikan buku yang sama, karangan dia tentan sejarah, kesan dan pesan di persahabatan kita hehe so sweet ya.
Sampe sekarang pun, gue masih bersahabat baik sama dia. Gue banyak banget ceritain dian ke almh. Nyokap.
Eh tanpa terduga sebelumnya, ternyata almh. Nyokap gue itu kenalan sama nyokapnya dian hehe pas banget ya.
Inti dari segala inti adalah, persahabatan gue sama dian itu berliku-liku. Coba deh suruh dian itung berapa kali gue sama dia berantem?dan ujungnya pasti baikan lagi hehe itu unik tapi :D
Dian tuh dulu sering banget nasehatin gue, marahin kalo gue salah, marahin kalo gue mulai nyerah ngehadepin masalah. That's what friend are for :) makasih ya dian, udah ngajarin talit apa arti sahabat sesungguhnya. Sahabat yang nggak cuma ada di saat seneng aja. Makasih udah banyak ngajarin talit sesuatu di hidup ini, makasih udah mau jadi sahabat talit :')
Jangan pernah berubah ya!

Kamis, 26 Januari 2012

That's what friend are for #5 Reytavenzka Fidelia

Reytavenzka Fidelia alias thata. Entah kenapa nama dia gue masukin ke list sahabat gue. Persahabatan gue sama Thata cuma 2 tahunan. Sampe akhirnya dia ninggalin gue dan pergi duluan ke sisi allah. Pertemuan tak terduga dan tanpa rencana itu yang akhirnya bikin gue kenal bahkan sampe deket sama Thata. Sebelumnya gue udah pernah ceritain tentang sahabat gue thata ini di blog. Kalo nggak salah judul postingannya "Pertemuan dan Perpisahan dikala Hujan"
Thata itu udah ngajarin gue banyak hal secara nggak langsung dan secara singkat.
Thata itu korban broken home. Bukan cuma itu aja. Dia disini tinggal sendirian. Dan setiap bulannya cuma nerima uang kiriman dari orang tuanya di luar kota, orang tua nya masing-masing udah punya keluarga baru.
Thata 2 tahun lebih tua dari gue, dia putus sekolah bukan karena nggak punya biaya. Tapi dia nggak punya penyemangat. Dia mikirnya percuma dia jadi sukses pun kalo dua orang yang pengen dia sukses udah berpisah dan nggak memperdulikan dia.
Kadang gue bisa ngerasain sedikit yang Thata rasain. Gimana sakitnya kalo ngeliat orang tuanya pisah.
Nanyain keadaan thata pun nggak pernah. Padahal kalo di pikir pikir, Thata itu kan anak perempuan, anak semata wayang. Kok bisa ya sampe segitunya? Tapi hebatnya thata dia cuek aja. Cuek dalam arti, dia nggak ngejadiin itu semua masalah besar, dia tetep jalanin hidup apa adanya. Walaupun akhirnya gue tau thata itu korban. Korban keisengan teman-teman nggak bertanggung jawab yang bikin thata terjerumus ke obat-obatan terlarang.
Thata, penyemangat gue. Dia selalu bisa bikin gue ketawa disaat gue rasa udah nggak ada jalan keluar dari masalah gue.
Dia selalu bisa bikin gue sadar, kalo masih banyak yang hidupnya lebih tidak beruntung di bawah gue.
Dia yang selalu bisa menyadarkan gue untuk selalu besyukur atas apa yang gue punya sekarang.
Dia yang ngajarin gue buat nggak cengeng, nggak gampang ngeluh dan nggak gampang nangis.
Dia sahabat dari segala sahabat.
That's what friend are for :)

That's what friend are for #4 Efrida Rahmawati

Ini sahabat gue yang lain lagi. Namanya Efrida Rahmawati. Biasanya di panggil frida. Kejadian-kejadian kecil sampe hal besar banyak gue laluin sama dia. Dulu waktu SD, gue lupa kelas berapanya. Antara kelas 3-4 gitu. Setiap pulang sekolah, nyokap gua setengah pusing nyariin gue nggak ada di mobil jemputan. Tau nya gue di temuin nyokap udah ada di mobil jemputannya frida hahaha, sering banget kayak gitu. Padahal rumah gue dan frida berbanding arah yang cukup jauh. Dulu tuh frida galak banget, sama ade nya. Sama mbak pembantunya. Sama gua juga. Tapi gue sih udah biasa, jadi udah ngertiin aja kalo frida gitu, paling buat mencairkan suasana pas frida lagi marah marah ya gue ajak bercanda aja biar moodnya sedikit kembali naik.
Dulu, frida tuh koleksi barbie hahaha padahal frida anaknya tuh agak tomboy lho, hampir mirip kayak gue. Ya walaupun sekarang lebih jauh frida lebih tomboy dari gue. Gue masih suka pake baju baju blouse, rok mini atau dress. Tapi frida kayaknya nggak pernah deh hehe. Dia koleksi barbie yang lumayan banyak lah, lengkap beserta tempat tidur, kursi dan mejanya. Dari sisir, sepatu, kaca mata, tas dan pernak pernik buat mempercantiknya tuh dia punya lengkap.
Gue sering banget nginep dirumah frida. Bukan cuma keluarganya aja. sampe kakek neneknya frida kenal lumayan akrab sama gue. Dari om, tante, bude, pakde dan sepupu sepupunya juga beberapa gue kenal hehehe karna saking sering nginep dirumahnya.
Tapi yang gue liat makin bertambahnya umur sikap frida makin berubah menjadi lebih baik. Dari yang tadi nya emosinya labil, sering marah dan galak banget. Sekarang udah berkurang banget malah kayaknya udah ilang. Alhamdulillah ya sahabatku ini sudah makin dewasa sifatnya.
Gue udah nganggep bokap nyokapnya frida pun jadi orang tua gue. Kadang manggil bokap nyokap nya frida dengan sebutan 'ayah dan ibu'.
Nyokap gue pun bersahabat baik sama bokap nyokapnya frida, udah kayak adik kakak. Kebetulan nama nyokap gue dan nama nyokap frida itu hampir sama hehe mereka udah kayak saudara deketnya. Bukan cuma gue yang suka cerita ke frida, tapi ibu kami berdua pun sama. Keluarga frida tau semua sejarah tentang keluarga gue, begitupun sebaliknya.
That's what friend are for :)

That's what friend are for #3 Errvyna Dian Lestari

Vina, biasa di di panggilnya. Dia sahabat gue yang sampe detik ini pun masih menjabat sebagai sahabat gue. Sama seperti halnya dengan wulan, Nyokap gue dan mama nya vina pun bersahabat baik. Dari kakaknya vina yang pertama sampe yang ketiga gue kenal semua. Gue juga sering nginep dan liburan bareng vina dan keluarganya.

Vina itu orangnya baik, selalu baik. Dia dewasa banget apa mungkin umurnya yang beda 7 bulan lebih tua dari gue. Hehe vina dari dulu sampe sekarang yang bikin khas itu pipinya! Haha pipinya tembem banget, makanya gue dan sahabat sahabat yg lain suka manggil dia 'bakpau' karna pipinya yang tembem itu, sekilas dulu tuh vina mirip gita gutawa hehehe tapi sekilas ya. Dia juga suka banget sama kura-kura. Dari yang kecil sampe yang gede namanya otoy dan bumi dulu kura kuranya sampe sekarang udah nggak punya lagi hehehe
Vina itu peduli banget sama gue, begitu pun keluarganya. Gue ngerasain banget hal itu tanpa harus mereka bilang kalo mereka peduli sama gue. Yang bikin vina beda dari yang lain itu. Sewaktu dan setelah almh. Nyokap gue meninggal sampe sekarang vina dan keluarganya masih suka nanya kabar gue. entah itu sms atau telpon. Nggak kayak yang kelihatan peduli nya waktu saat nyokap gue baru meninggal aja. Vina juga sesekali sering ngajak ke makam nyokap gue, cuma ya karna perbedaan waktu dan tempat sekolah yang mungkin bikin kita susah bikin waktu janjian. Tapi sejauh ini, hubungan persahabatan gue dan vina selama 12 tahun baik-baik aja, sampe sekarang kita masih bersahabat.
That's what friend are for :)

Rabu, 25 Januari 2012

That's what friend are for #2 Wulandari Rosidawati


Yang Ke-2 ini namanya Wulandari Rosidawati. Cewek seumuran gue yang lahir tanggal 12 Juni 1994 ini adalah teman pertama kali nya gue kenal yang namanya bangku sekolah :)
Pas pertama kali sekolah di SDN Tangerang 6 kelas 1B. Gue berkenalan dengan wulan. Entah gimana asal muasalnya gue duduk dan berkenalan dengan wulan ini. Yang gue inget, Wulan ini orangnya pemalu banget. Dulu hampir gue nyangka nya kalau dia ini nggak bisa ngomong alias bisu. Abisnya, setiap gue ngomong dia cuma senyum aja. Kalau gue pinjem alat tulis atau sesuatu jawabannya ya cuma pake gerak tubuhnya aja. Kalau dia punya ya dia mengangguk, kalau dia nggak punya ya dia geleng-geleng hehehe. Hampir nggak ada satu patah kata pun yang dia keluarin dari mulutnya. Tapi lewatin itu semua. Almh. Nyokap gue dan wulan juga bersahabat dekat. Ini yang bikin hubungan gue dan wulan nggak cuma berjalan di sekolahan.
Dan lama kelamaan keliatan juga aslinya kalau wulan nggak sepenuhnya pendiem, dia anaknya asik juga ya walaupun nggak sebawel gue sih hehe oiyah Kayak waktu dulu, gue lupa kelas berapa. Ada kejadian menyedihkan. Adik perempuannya wulan yang masih TK, Sari namanya. Kena kecelakaan, dia di tabrak sama mobil. Dan itu malah yang bikin keluarga gue dan wulan makin deket. Disaat almh. Nyokap gue nemenin nyokapnya wulan di rumah sakit. Ya otomatis wulan sama gue, sempet nginep di rumah gue juga. Bukan cuma itu aja, gue juga sering nginep dirumah wulan, bahkan ikut keluarganya wulan liburan ke rumah neneknya di Rangkas. Ini pengalaman yang nggak bisa di lupain.
Bahkan, sampe sekarang gue dan wulan udah SMA kelas 12 pun kita masih berteman dekat lho. Masih sering main dan liburan bareng walaupun udah beda sekolah. Terakhir liburan bareng sama wulan waktu tahun baru 2010-2011 waktu itu kita ke puncak bersama keluarga temen temen yang lainnya. Yah, gue harap setelah berteman hampir 12 tahun sama wulan ini, kita bisa tetep bareng bareng bersahabat seperti sedia kala, tanpa pernah lupa satu sama lain. Kalau pun nanti jarak jauh yang misahin karna kuliah kita beda kota atau bahkan negara. Semoga hubungan persahabatan kita masih tetap utuh dengan komunikasi yang nggak pernah luntur :)
That's what friend are for.

That's what friend are for #1 - IIN

Sahabat?
1 kata, 7 huruf. Beribu ribu pengertian.
Setiap orang pasti punya definisi berbeda-beda dengan kata ini.
Begitu pun dengan ada nya gue.
Pengalaman hidup selama 17 tahun di dunia ini mengajarkan gue sedikit banyak tentang peran seorang sahabat di kehidupan kita. Tapi, beberapa dari itu cuma mengecewakan. Let's check!

Dulu, waktu umur gue kira-kira 6 tahunan. Gue punya sahabat, sebut aja namanya iin. Karna waktu itu gue nggak tau nama lengkapnya. Dia tetangga gue, tapi dia ngontrak sama bokapnya yang polisi di rumah kontrakan petakan daerah rumah gue gang jamblang cipondoh. Iin anaknya lebih tua sekitar 2-3 tahun dari gue. Kelihatan dia udah mandiri dan cuek sendiri sama dunia nya. Waktu pertama gue di beliin otopet sama nyokap (waktu itu lagi musim main otopet) gue langsung kerumah iin bawa otopet gue, dan apa? Iin ngajak gue pergi lumayan jauh, ke suatu tempat main ding-dong. Bersama otopet gue, kita berdua pergi. Kita main ding-dong dengan gratis sepuasnya. Kenapa gratis? Karna bokapnya iin polisi yang jaga daerah sekitar situ. Keasyikan main disana, jadi lupa waktu. Dan akhirnya kita berdua pulang setelah hampir mau maghrib. pulang bercanda canda dulu lewatin sawah sawah. Gue ngerasa nyaman main sama iin. Dia dewasa, cuek, nekat dan apa adanya. Iin yang ngajarin gue gimana caranya nyebrang jalan dengan cepat waktu dulu. Iin yang ngajarin gue gimana manjat pohon belimbing. Iin yang ngajarin gue gimana caranya makan kacang mede yang di dapet dari buah jambu monyet hasil petikan sendiri. Iin yang ngajarin gue berani. Tapi, itu semua nggak berlangsung lama. Disaat gue udah mulai masuk sekolah, gue jarang ketemu iin. Setiap ngelewatin rumahnya juga kosong. Akhirnya setelah nggak lama dari itu, gue tau klo iin pindah rumah. Kecewa sih pasti, karna kenapa iin nggak pamit waktu itu? Kenapa iin nggak ninggalin nomor telpon bokapnya buat gue bisa ngehubungin iin lagi?
Belajar dari keberanian yang iin tularkan ke gue, suatu hari gue dateng ke pos polisi dimana bokapnya iin suka jaga disitu, dan gue tanya ke bapak polisi "pak, ada iin nggak?" tanya gue. Dan bapak polisi bilang "wah nggak tau, udah pindah keluar kota kali ayahnya iin". Dari situ gua pulang dengan kecewa, dan nggak bisa nemuin teman pengganti yang sekeren dan seberani iin.
Oh iya, dulu almh. Nyokap gue pernah ngelarang gue main sama iin. Alasannya sih karna iin nakal, pertama kali main sama dia gue di ajak ke tempat jauh, tempat main ding-dong sampe maghrib. Tapi disitu, gue tetep berteman sama iin, dia ngajarin gue 'sesuatu'
Semoga kalau nanti suatu saat iin baca tulisan ini, dia jadi inget sama gue :)
That's what friend are for :D

Senin, 23 Januari 2012

1 Tahun Tanpamu

selamat malam para blog walking :)
Terimakasih sudah berkunjung dan meluangkan waktu sedikit untuk membaca postingan saya ini.

Lagi lagi dan lagi saya ingin membahas tentang suatu hal yang sampai saat ini masih ada sedikit kepedihan di dalam hati yang saya rasakan.
Hidup 1 tahun setelah kepergian mama memang nggak mudah, lebih tepatnya malah sangat sulit.
Sampai detik ini, saya sering berharap. Bahwa suatu hari nanti mama saya akan kembali lagi, dan bilang kalau selama ini mama hanya menguji, mama hanya mendidik aku supaya belajar mandiri dan lebih baik lagi. Seperti adegan di beberapa film yang pernah ku tonton.
1 tahun setelah meninggalnya mama, aku tinggal bersama papa, kaka dan kakek nenekku.
Tinggal bersama orang yang mungkin boleh ku bilang 'asing' memang pilihan yang agak mengkhawatirkan. Walaupun mereka masih menjadi bagian keluarga, terlebih ayah dan kakakku yang masih ada hubungan darah yang sangat erat denganku.
Namun lagi lagi ini tak mudah, selama kurang lebih 7 tahun aku hanya tinggal berdua dengan mama, lalu kini aku kehilangannya dan harus tinggal bersama orang baru di lingkungan keluarga yang baru.
Nenekku mendidikku dengan agak keras, seperti adat dan cara berbicara nya yang sedikit keras dan terkadang agak kasar.
Sering kali aku tidak kuat dengan caranya mendidikku, sering kali aku mempunyai niat untuk kabur dan pergi dari rumah ini, namun selalu. Mama yang mungkin menghalanginya, mama yang selalu menjadikan ku kuat dengan semua ini.
Sering kali, aku merasa kesal bahkan mungkin menyimpan sedikit rasa dendam pada papa karna sikapnya yang terkadang kumat menjadi sangat tidak menyenangkan, ingin sekali aku memakinya, namun selalu. Mama yang membuat ku tidak melakukan hal itu.
Sering kali, aku menangis di pojokan kamar, di balik bantal. Aku menangis sekeras kerasnya dan meredam suara tangisanku dengan bantal, entah karna aku tidak kuat berada di rumah ini, dengan segala hal baru, kebiasaan baru, anggota keluarga baru atau mungkin aku menangis karna tidak dapat menerima kenyataan bahwa kini aku sudah pincang. Pincang dalam arti, mama yang selama ini menopang hidupku, menopang aku untuk selalu berdiri tegar sudah tiada lagi. Namun selalu, mama satu satunya alasan selama ini untuk aku menghapus air mata ku.

Mama, saat aku merasa lelah menghadapi semua kerasnya kehidupan. Cuma mama satu-satunya alasan kenapa aku bertahan sampai detik ini.
1 tahun, bukan waktu yang sebentar
Tapi, rasa sakit ini masih selalu ada klo ingat saat saat terakhir di ruangan ICU sampe mengantar jenazah mama kerumah dengan mobil ambulans.

Sedih rasanya, klo dulu selalu cerita dan ngelakuin semua hal sama mama, tapi sekarang. Cuma sendirian.
Klo dulu lagi sakit, selalu ada mama yang nolongin. Nyuapin makan, nyuruh minum obat, nganterin ke dokter. Tapi sekarang? Cuma sendirian.

Walaupun disini nggak tinggal sendirian. Masih ada papa, kakak, kakek dan nenek. Tetep aja rasanya beda.
Nggak semua hal bisa di ceritain ke mereka.
Nggak semua hal bisa minta tolong ke mereka.
Kangen banget rasanya ma,
Pengen peluk mama
Pengen cium mama
Pengen pegang pipi mama
Pengen ngelus rambut mama
Pengen tinggal berdua sama mama lagi.
Rasanya lebih tenang ma, lebih bikin hati seneng klo ada mama disini.